Operasi penangkapan yang dilakukan pada Kamis (17/10) itu diakui oleh menteri pertahanan telah direncanakan dengan buruk. Akibatnya, puluhan personel militer dikepung oleh orang bersenjata dari kartel tersebut, Sinaloa, yang berujung pada bentrok dan menyebabkan pembebasan kembali Ovidio.
Akibat bentrok yang terjadi, sebanyak delapan orang meninggal di Culiacan, yang merupakan ibukota negara bagian Sinaloa. Anggota kartel melancarkan serangan dengan menggunakan senapan mesin besar-besaran di kota barat itu dan menyebabkan jalanan dipenuhi dengan kendaraan yang berasap.
Pasca kejadian tersebut, Jaksa Agung Alejandro Gertz memastikan bahwa pihaknya akan melakukan penyelidikan pada semua pihak yang terkait, tidak terkecuali pejabat.
"Kami akan melakukan penyelidikan mendalam untuk menentukan tanggung jawab semua yang terlibat, di kedua sisi," kata Gertz awal pekan ini.
"Ini bukan hanya tentang tindakan satu pelayan publik atau satu kriminal. Kami akan menganalisis semua fakta untuk mengklarifikasi kejahatan apa yang mungkin telah dilakukan, kemudian menuntut dan menghukum mereka, tanpa kecuali," tegasnya.
Presiden Meksiko Andres Manuel Lopez Obrador sebelumnya telah membela tindakan tim keamanannya dan mengatakan keputusan untuk membebaskan kembali putra sang gembong narkoba dilakukan untuk melindungi kehidupan warga sipil.
Namun Gertz mengatakan dia tidak percaya keputusan itu datang langsung dari presiden.
"Itu bukan pekerjaannya," kata Gertz seperti dimuat
Channel News Asia.
Diketahui bahwa Ovidio Guzman yang kini berusia 28 tahun adalah salah satu dari setidaknya 10 anak "El Chapo" Guzman, yang menjalani hukuman penjara seumur hidup di Amerika Serikat setelah dinyatakan bersalah pada bulan Juli karena memperdagangkan ratusan ton narkoba ke Amerika Serikat selama 25 tahun.
BERITA TERKAIT: