Dimuat oleh
Reuters, Parlemen Inggris telah mengeluarkan Undang-undang yang akan memaksa Johnson untuk menunda Brexit hingga 2020. Kecuali jika memang Johnson berhasil mendapatkan kesepakatan pemisahan.
Namun, Johnson yang seakan terobsesi dengan Brexit justru menyatakan bahwa ia akan terus berusaha mengeluarkan Inggris dari Uni Eropa, dengan atau tanpa kesepakatan. Johnson sendiri mengaku akan berusaha melanjutkan negosiasi dengan kesepakatan. Namun jika kesepakatan tidak dicapai, Brexit tetap akan terjadi.
"Saya akan pergi ke pertemuan penting itu pada 17 Oktober dan tidak peduli berapa banyak hambatan yang diciptakan parlemen. Saya akan berusaha mendapatkan kesepakatan untuk kepentingan nasional. Pemerintah tidak akan menunda Brexit lebih lama," ujar Johnson.
Meski demikian, para pemimpin Uni Eropa menyatakan bahwa pihaknya belum menerima proposal spesifik dari pihak Johnson menjelang pertemuan puncak UE pada 17 dan 18 Oktober mendatang.
Ketidakjelasan ambisi Jonson ini memicu ketegangan di House of Commons. Johnson tak hanya ditentang oleh oposisi, namun juga anggota partai pendukungnya. Sekitar 21 anggota Partai Konservatif yang mengusung Johnson bahkan memberikan suara untuk penundaan Brexit.
"Kita tidak siap untuk mengambil risiko bencana tanpa kesepakatan," ujar Pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn, yang merupakan oposisi Johnson.