Terlalu Dini Tuduh Prabowo Gunakan Propaganda Rusia Ala Trump

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 06 Februari 2019, 09:32 WIB
Terlalu Dini Tuduh Prabowo Gunakan Propaganda Rusia Ala Trump
Dinna Wisnu/Net
rmol news logo Tuduhan yang menyimpulkan bahwa ada propaganda Rusia dalam kampanye calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, seperti yang dialami oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dianggap terlalu dini.

Trump sendiri diketahui dituduh melibatkan campur tangan Rusia  usai kemenangannya dalam pemilu 2016. Namun, hal itu masih sebatas tuduhan, karena penyelidikan soal hal itu masih berlangsung di Amerika Serikat.

"Trump masih dalam proses penyelidikan internal di Amerika Serikat. Pihak dalam negeri Amerika Serikat belum memiliki kesimpulan yang menyatakan Trump curang. Menurut saya terlalu mendahului untuk mengatakan Trump curang meskipun banyak pihak menyakini bahwa hal itu kemungkinan besar memang terjadi," kata pengamat Hubungan Internasional Universitas Bina Nusantara Dinna Wisnu saat dihubungi Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (6/2), terkait Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Maruf Amin yang mengaitkan pernyataan Propaganda Rusia dalam strategi politik Donald Trump yang menggunakan jasa konsultan politik Rusia yang jika dinilai curang.

Dinna menuturkan bahwa secara etis atau tidak pilpres Indonesia yang terkesan menyerang hasil pemilihan demokratis di negara lain adalah tergantung niatnya.

"Etis atau tidak tergantung konteks dan motivasinya. Amerika Serikat sendiri sering menyebut negara seperti Iran, Venezuela atau Korea Utara sebagai Axis of Evil (poros kejahatan). Negara mana yang mau dijadikan kritikan tentu harus dikaji dengan benar," lanjut Dinna.

Selain itu kata Dinna, pernyataan Propaganda Rusia oleh Jokowi dinilai tidak akan membahayakan hubungan luar negeri Indonesia dan Amerika Serikat, terlebih dengan penyerapan ekspor kelapa sawit (CPO) Rusia.

"Amerika Serikat justru senang para politisi Indonesia terhegemoni dengan media barat. Rusia yang sudah pasti keberatan dan perlu diingat Rusia termasuk negara potensial yang dapat menyerap ekspor CPO kelapa sawit indonesia di mana banyak negara Eropa atau Amerika Serikat menolak atau membatasinya," tandasnya. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA