Arias membantah tuduhan itu dan mengatakan bahwa dia tidak pernah bertindak melawan kehendak wanita mana pun dan telah berjuang untuk kesetaraan gender selama karirnya.
Menurut publikasi
Semanario Universidad, dimuat ulang
The Guardian (Selasa, 5/2), wanita itu mengatakan insiden itu terjadi 1 Desember 2014, di rumah mantan presiden di ibukota, San Jose, di mana dia datang untuk pertemuan terkait dengan perjuangannya.
Wanita yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan bahwa Arias tiba-tiba saja memeluknya dari belakang menyentuh payudaranya, mulai menciumnya dan memainkan jarinya di tubuh wanita tersebut.
"Saya tidak ingat dengan baik apa yang dia jawab kepada saya, tetapi dia terus menyentuh saya," kata wanita itu.
"Lalu dia menyuruh saya menunggu sebentar dan dia meninggalkan kantor. Saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya merasa terjebak pada saat itu," sambungnya.
Arias sendiri adalah presiden Kosta Rika dari tahun 1986 hingga 1990 dan sekali lagi dari tahun 2006 hingga 2010. Dia dianugerahi hadiah perdamaian Nobel pada tahun 1987 atas upayanya untuk mengakhiri perang saudara di Amerika Tengah.
[mel]