Peringatan tersebut dikeluarkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo. Dia mengatakan bahwa Iran berencana meluncurkan tiga roket dalam beberapa bulan mendatang, yang disebut dengan Space Launch Vehicle (SLV). Pompeo mengklaim bahwa Iran menggabungkan teknologi yang hampir identik dengan apa yang digunakan dalam rudal balistik antarbenua.
"Amerika Serikat tidak akan tinggal diam dan menyaksikan kebijakan destruktif rezim Iran menempatkan stabilitas dan keamanan internasional dalam bahaya," kata Pompeo dalam sebuah pernyataan, seperti dimuat
Reuters (Jumat, 4/1).
"Kami menyarankan rezim untuk mempertimbangkan kembali peluncuran provokatif ini dan menghentikan semua kegiatan yang berkaitan dengan rudal balistik untuk menghindari isolasi ekonomi dan diplomatik yang lebih dalam," sambungnya.
Pompeo mengatakan peluncuran roket itu akan melanggar Resolusi 2231 Dewan Keamanan Amerika Serikat. Dia menyerukan Iran untuk tidak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan rudal balistik yang mampu mengirimkan senjata nuklir. Namun dia tidak secara eksplisit melarang kegiatan tersebut.
Iran menolak peringatan itu, dan mengklaim bahwa peluncuran roket ruang angkasa dan uji coba rudal bukanlah suatu pelanggaran.
Iran telah berulang kali menolak tuduhan Amerika Serikat tentang uji coba rudal balistiknya, termasuk penembakan peluncur ruang angkasa.
"Peluncuran kendaraan ruang angkasa Iran dan tes rudal tidak melanggar (Resolusi) 2231. Amerika Serikat berada dalam pelanggaran material yang sama dan karena itu tidak dalam posisi untuk memberi kuliah pada siapa pun di atasnya," tegas Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam unggahan di Twitter.
"Ancaman menimbulkan ancaman, sementara kesopanan melahirkan kesopanan," tegasnya.
Teheran berulang kali menyangkal memiliki rudal yang dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir.
[mel]
BERITA TERKAIT: