Sebagian besar pembunuhan dilakukan oleh kelompok-kelompok bersenjata ilegal dan geng-geng narkoba yang memperebutkan bekas wilayah FARC.
Sekjen PBB Antonio Gutteres mengatakan dalam laporan triwulanannya mengenai misi PBB ke Kolombia yang dirilis awal pekan ini, dalam tiga bulan terakhir saja ada 14 mantan anggota FARC yang dibunuh.
Gutteres juga mengatakan bahwa dia sangat khawatir bahwa lebih dari 400 pemimpin sosial dan aktivis hak asasi manusia telah terbunuh di Kolombia sejak 2016.
"Sebagian besar pembunuhan berada di zona ditinggalkan oleh mantan (pejuang) FARC dan di mana ada kehadiran negara terbatas," kata laporan PBB, seperti dimuat
BBCGuterres mendesak Presiden Kolombia Ivan Duque untuk berbuat lebih banyak untuk melindungi para mantan pemberontak.
FARC dibentuk pada tahun 1964 dengan niat untuk menggulingkan pemerintah dan membentuk rezim Marxis. Namun sejak perjanjian damai, FARC, atau Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia, sekarang menjadi partai politik yang dikenal sebagai Angkatan Bersamaan Alternatif Revolusioner dengan lima kursi di Senat dan lima di DPR.
Sejak perjanjian damai, aparatur negara Kolombia yang lemah tidak mampu mengendalikan wilayah-wilayah terpencil ini.
Sebagai gantinya, kelompok-kelompok bersenjata ilegal telah mengambil alih dan pasukan keamanan dan presiden semakin dikecam karena tidak membendung kekerasan.
[mel]
BERITA TERKAIT: