Jim Mattis Mundur, Sekutu AS Di Asia Paifik Ketar Ketir

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 21 Desember 2018, 22:08 WIB
rmol news logo Pengunduran diri tiba-tiba dari Menteri Pertahanan Amerika Serikat Jim Mattis memicu kekhawatiran di antara sekutu Amerika Serikat di Asia Pasifik.

Mattis, yang merangkul aliansi tradisional Amerika Serikat diketahui mundur pada Kamis (21/12), setelah bertengkar dengan Presiden Donald Trump mengenai kebijakan luar negeri, termasuk keputusan mengejutkan pekan ini untuk menarik pasukan dari Suriah.

"Dia (Mattis) secara umum telah disebut sebagai salah satu orang dewasa di pemerintahan Trump," kata Senator pemerintah Australia Jim Molan kepada The Australian.

Dia menambahkan bahwa hengkangnya Mattis merupakan hal yang memprihatinkan, karena itu berarti ada variabel ekstrim lain dalam pengambilan keputusan AS.

Mattis sendiri telah menjadi kritikus vokal tentang kehadiran China yang semakin meningkat di Laut China Selatan. Namun Mattis juga bekerja untuk memastikan ketegangan tidak mendidih.

"Dia telah menjadi titik kontinuitas dan gatekeeper dalam pemerintahan yang mereka andalkan untuk menekan insting Trump, yang jauh lebih banyak, saya pikir, isolasionis dan sangat skeptis, tentang komitmen aliansi," kata analis kebijakan luar negeru dan keamanan serta direktur eksekutif La Trobe Asia at Australia’s La Trobe University, Euan Graham seperti dimuat Reuters.

Kepergian Mattis juga merampas Australia, tanpa duta besar AS sejak 2016, dari sekutu kunci dalam administrasi Trump.

"Australia selalu memiliki telinga Mattis," kata sumber diplomatik AS kepada Reuters.

Sementara itu, analis pertahanan di Federasi Ilmuwan Amerika Serikat, Adam Mount, mengatakan Mattis memegang peranan kuat di Korea Utara dan berperan penting dalam mencegah perang.

"Mattis menebus air dari aliansi yang diterpa presiden yang tidak menentu, Korea Utara yang maju, dan China yang semakin tegas," kata Mount.

"Pekerjaannya membuat aliansi tetap bertahan tetapi pertanyaan-pertanyaan besar harus diselesaikan untuk tetap kuat," tutupnya. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA