Di waktu yang bersamaan, polisi menutup jalan dalam upaya untuk menahan protes terhadap pembunuhan warga sipil yang terjadi pada akhir pekan kemarin. Hal itu menyebabkan wilayah itu menjadi wilayah yang terkunci awal pekan ini.
Diketahui bahwa kerusuhan telah meningkat dalam beberapa minggu terakhir di wilayah mayoritas Muslim di wilayah yang menjadi pusat permusuhan antara India dan Pakistan.
Akhir pekan kemarin, kerusuhan menyebabkan tujuh warga sipil meninggal dunia ketika pasukan keamanan melepaskan tembakan ke sebuah protes atas pembunuhan tiga militan.
Separatis kemudian berencana untuk turun ke jalan menuju markas tentara di kota utama Kashmir di Srinagar pada hari ini (Senin, 17/12). Tetapi para pemimpin separatis Syed Ali Shah Geelani dan Mirwaiz Umar Farooq mengatakan mereka telah ditahan di rumah agar tidak memimpin aksi.
Polisi dan pasukan para-militer memasang barikade di berbagai bagian Srinagar, termasuk di jalan-jalan menuju markas tentara, dan melakukan patroli ketat.
Sementara itu, pihak militer, dalam sebuah pernyataan pada Minggu malam (16/12) memperingatkan penduduk agar tidak dimanfaatkan untuk membuat masalah.
"Ini merupakan upaya untuk mengadu penduduk sipil melawan pasukan keamanan," begitu keterangan pihak militer seperti dimuat
Reuters.
Selain itu, toko-toko, kantor-kantor pemerintah dan bank-bank ditutup di Srinagar dan distrik terdekat. Pihak berwenang juga menutup layanan internet dan jaringan seluler.
India yang berpenduduk mayoritas Hindu menuduh Pakistan melatih dan mempersenjatai gerilyawan separatis yang beroperasi di Kashmir.
Pakistan membantah bahwa mengatakan hanya menawarkan dukungan politik kepada orang-orang di wilayah Muslim yang ditolak haknya oleh pasukan keamanan India.
Pasukan India mengatakan mereka telah membunuh 242 militan tahun ini di wilayah itu, sementara 101 warga sipil dan 82 anggota pasukan keamanan telah tewas, menjadikannya tahun ini menjadi tahun paling berdarah dalam lebih dari satu dekade di Khasmir.
[mel]