Strategi Presiden Mesir Kembalikan Keamanan Di Sinai Dikritisi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Sabtu, 02 Desember 2017, 19:45 WIB
Strategi Presiden Mesir Kembalikan Keamanan Di Sinai Dikritisi
Abdel Fattah el-Sisi/Net
rmol news logo Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi pekan ini memberikan tenggat waktu selama tiga bulan bagi pasukan keamanan untuk mengembalikan keamanan dan stabilitas di provinsi Sinai Utara pasca serangan bom di masjid Bir al-Abed yang menewaskan lebih dari 300 orang beberapa waktu lalu.

Langkah tersebut dikritisi oleh sejumlah ahli yang menilai bahwa strateginya telah menyebabkan lebih banyak kerusakan pada wilayah dan penduduknya.

Peneliti dan penulis Sinai Mohannad Sabry mengatakan bahwa tanda-tanda strategi "kekerasan" Sisi sudah mulai muncul minggu lalu, ketika polisi dan pasukan militer mulai menyerang desa-desa dan cluster perumahan di dekat lokasi serangan tersebut.

"Penduduk setempat memperkirakan bahwa penggerebekan semacam itu menahan puluhan orang, terutama mengungsi selama beberapa tahun terakhir dari wilayah Sheikh Zuwayyed dan Rafah," katanya kepada Al Jazeera.

Menurut Sabry, para tahanan tersebut memasukkan beberapa orang yang memimpin usaha masyarakat untuk mengumpulkan sumbangan bagi para korban serangan terbaru tersebut.

Semenanjung Sinai, daerah gurun saat ini diketahui terbagi menjadi dua gubernur yakni utara dan selatan. Wilayah ini telah menjadi tempat persembunyian bagi berbagai kelompok bersenjata.

Mesir selama bertahun-tahun telah memerangi sebuah gerakan bersenjata di wilayah gurun yang berpenduduk padat, yang telah meningkat sejak militer menggulingkan Presiden terpilih Mohamed Morsi dari Ikhwanul Muslimin pada pertengahan 2013.

Pada tahun 2014, setelah sebuah bom bunuh diri mematikan yang menewaskan 31 tentara, Sisi mengumumkan keadaan darurat di semenanjung tersebut, yang menggambarkannya sebagai "tempat bersarang untuk terorisme dan teroris". Deklarasi tersebut membawa serta jam malam dan sangat membatasi kebebasan bergerak warga.

Hal ini juga menyebabkan terhentinya seluruh desa dan penghancuran ekonomi pertanian, kata Sabry, yang telah menghabiskan beberapa tahun di wilayah tersebut.

"Jika janji Sisi berarti mengintensifkan penggunaan kekerasan, maka kita tentu saja mengantisipasi kerugian lebih banyak, tingkat penindasan yang lebih tinggi dan lebih banyak kerugian dan kerugian yang ditimbulkan pada masyarakat," katanya.

Pola empat tahun terakhir ini telah membuat orang-orang Sinai "ketakutan" setelah setiap serangan.

"Masyarakat lokal di Sinai Utara telah terbiasa dengan fakta bahwa rezim dan otoritasnya tidak akan menginvestasikan kebijakan atau upaya untuk melindungi warga sipil, namun akan terus melihatnya dengan curiga dan menekan mereka dengan kekuatan yang kadang-kadang mematikan setiap saat, terutama setelah serangan," tegasnya. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA