Abdel Hady al-Qasaby, kepala Dewan Tinggi untuk Sufi Mesir, mengatakan kepada The Guardian bahwa perayaan kelahiran Nabi Muhammad akan berlanjut di masjid-masjid di Mesir. Pusat perayaan dilakukan di Masjid Hussein di Kairo tengah.
Namun demikian ia menekankan bahwa perayaan outdoor dibatalkan.
"Kami hanya akan membatalkan parade sufi tahunan, karena kami berkabung atas para martir kami," jelasnya.
Salem yang merupakan seorang penduduk Bir al-Abed dan bermukim di masjid Rawda, berbicara tentang kemarahannya atas serangan tersebut.
"Saya menghabiskan malam terakhir menghadiri pemakaman massal orang-orang yang saya kenal, atau pernah saya lihat di lingkungan sekitar selama bertahun-tahun," katanya.
"Kami menempatkan 30-40 mayat di satu kuburan massal, digali dengan buldozer," sambungnya.
Serangan terhadap Masjid al-Rawda di kota Bir al-Abed, Sinai utara, Jumat adalah yang paling mematikan dalam sejarah Mesir modern. Sebuah bom merobek rumah ibadah tepat setelah sholat Jumat, menewaskan banyak dari mereka termasuk 27 anak.
Jaksa penuntut umum Mesir, Nabil Sadeq, mengatakan bahwa sekitar 30 militan mengelilingi pintu masuk utama ke masjid dan 12 jendela dengan mobil sebelum melepaskan tembakan ke arah orang-orang di dalamnya. Militan dilaporkan kemudian berjalan di antara korban tewas yang mereka percaya masih bernafas.
Saksi mata menceritakan bahwa gerilyawan mengendarai spanduk hitam Wilayat al-Sinai (Governorate of Sinai), yang telah berjanji setia kepada ISIS pada tahun 2014.
[mel]
BERITA TERKAIT: