Sebaga gantinya, operasi akan dipimpin oleh Badan Penegakan Obat-obatan di negara di Filipina.
Pekan ini, Duterte telah menandatangani sebuah memorandum yang menugaskan Badan Penegakan Obat Filipina (PDEA) untuk menjadi agen tunggal untuk memerangi obat-obatan terlarang.
Perintah tersebut secara efektif menangguhkan operasi Oplan Double Barrel dan Oplan Tokhang yang dilakukan oleh Polisi Nasional Filipina (PNP) selama lebih dari setahun terakhir.
Selain itu, biro Investigasi Nasional juga diperintahkan untuk menghentikan operasinya terhadap perang melawan narkoba.
Sejak menjabat Juni tahun lalu, Duterte telah mengatasi masalah narkoba di Filipina sebagai prioritas utama.
Kampanye tersebut mendapat banyak kritik dari badan hak asasi manusia dan pemimpin asing karena ribuan orang kehilangan nyawa mereka dalam pembunuhan terkait narkoba baik dalam serangan polisi atau oleh warga negara biasa.
Tindakan keras tersebut mengakibatkan hampir 3.900 kematian.
Jumat kemarin (13/10), Duterte kembali menegaskan bahwa ia tidak akan lagi ikut campur dalam perang melawan narkoba nasional, sebagian karena semua publisitas dan kritik negatif.
"Saya tidak akan lagi ikut campur. Saya tidak mencuci tangan saya. Saya hanya tidak ingin terlibat lagi, "kata Duterte dalam sebuah wawancara seperti dimuat
Russia Today.
"Jika ada operasi narkoba, polisi jangan ikut campur," tegasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: