Bekerjasama dengan KAMMI, Pemuda PUI, Pemuda Al-Irsyad dan FSLDK, kegiatan ini diselenggarakan di Aula Pesantren Al-Islamiyah PUI, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (13/6).
Pengamat politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia, Yon Machmudi, Ph.D, serta pengamat politik internasional, Haryo Setyoko, M.PA , didapuk menjadi narasumber dalam diskusi yang bertemakan "Krisis Qatar: Masa Depan Timur Tengah dan Transformasi Peta Politik Global".
"Melalui platform AYLF ini, diharapkan pemuda Indonesia dapat berpartisipasi aktif dalam kampanye perdamaian global. Salah satunya adalah himbauan kepada negara-negara teluk agar dapat menyelesaikan polemik Qatar ini dengan damai dan diplomatik," tegas Presiden AYLF Indonesia, Adhe Nuansa Wibisono dalam sambutannya.
"Qatar menjadi negara yang independen secara politik karena berhasil mengelola sumber daya alam. Selain minyak, mereka juga berhasil menjadi pengekspor gas, inilah yang tidak dimiliki negara teluk lainnya. Gas yang lebih murah memungkinkan peralihan dari minyak ke gas, sehingga negara para pengimpor minyak khawatir," ujar Yon memulai diskusi.
Alumnus Australian National University itu mengemukakan bahwa negara Timur Tengah cenderung memilih pendekatan represif dalam mengatasi konflik, sehingga senjata diperlukan. Menurutnya, hal ini yang menguntungkan negara industri senjata.
"Indonesia jangan mengadopsi pemberantasan terorisme negara Timteng karena berbahaya," ujar Yon seperti dalam rilis AYLF.
Pembicara kedua, Haryo Setyoko, mengupas bagaimana embargo yang dilakukan Saudi dan beberapa negara teluk lainnya ini terjadi.
"Terdapat tiga labirin konflik dalam kasus ini. Pertama, Jerat kampanye. Kedua, kompetisi harga minyak. Ketiga, penstabilan harga dolar AD," jelas Haryo menambahkan.
Alumnus Lee Kwan Yew School of Public Policy of the National University of Singapore itu juga menegaskan bahwa pada akhirnya, sebagai hasil dari krisis Qatar ini, kemungkinan besar tidak akan sampai terjadi perang.
"Ada empat jalan keluar yang mungkin terjadi, yakni perang dunia ketiga, perang teluk ketiga, détente, dan perang dingin antara dua kubu," kata Haryo melanjutkan.
Selain itu, ia juga menyampaikan kepada peserta untuk terus banyak membaca, agar bisa menguak tabir di balik kejadian yang terjadi.
[rus]
BERITA TERKAIT: