Dikabarkan
Reuters bahwa sejak akhir pekan kemarin, banjir telah mencapai hingga ke atap rumah di sejumlah wilayah dan memotong akses ke banyak desa di pedesaan Sri Lanka.
Akibatnya, hampir setengah juta kehidupan warga terganggu, banyak di antaranya yang merupakan pekerja di perkebunan karet.
Penduduk desa di Agalawatte, di sebuah daerah yang terkenal dengan perkebunan karet. Desa ini terletak di sebelah tenggara ibukota, Kolombo.
Di wilayah tersebut ada 53 penduduk desa yang kehilangan nyawa dan 58 lainnya yang masih dinyatakan hilang akibat bencana yang disebabkan oleh curah hujan terburuk sejak tahun 2003 lalu.
Militer telah mengirim helikopter dan kapal ke dalam upaya penyelamatan dalam bencana tersebut.
Pemerintah Sri Lanka sendiri telah meminta bantuan internasional, baik dari PBB maupun dari negara-negara tetangga.
[mel]
BERITA TERKAIT: