Mereka berupaya untuk merebut kembali bangunan dan jalan-jalan di sebagian besar Kota Marawi yang dipegang oleh militan Maute, yang telah berjanji setia kepada kelompok militan ISIS.
Akibat misi tersebut, puluhan orang tewas.
Ribuan orang melarikan diri saat pemberontak merebut sebagian besar kota dan membakar bangunan dalam pertempuran dengan pasukan pemerintah yang meletus pada awal pekan ini.
Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberlakukan darurat militer pada Mindanao yang miskin, pulau terbesar kedua di negara itu, untuk mencegah penyebaran ekstremisme setelah pemberontak Maute mengamuk melalui kota berpenduduk 200.000 orang tersebut.
Sedikitnya 21 orang terbunuh sejak saat itu. Para pemimpin agama juga menuduh pemberontak menggunakan orang Kristen, disandera selama pertempuran, sebagai tameng manusia.
"Kami menghadapi kemungkinan 30 sampai 40 yang tersisa dari kelompok teroris setempat," kata Jo-Ar Herrera, juru bicara Resimen Infantri Pertama militer.
"Militer sedang melakukan operasi pembedahan yang tepat," sambungnya seperti dimuat
Reuters.
Militer mengirim dua helikopter dengan senapan mesin untuk memadamkan pemberontak dan mengendalikan jembatan tersebut, satu dari tiga operasi di kota tersebut.
Truk dikirim untuk mengevakuasi warga sipil yang tersisa. Sebanyak tujuh tentara pemerintah, 13 militan dan satu warga sipil tewas sejak Selasa, kata Herrera.
[mel]
BERITA TERKAIT: