Begitu penjelasan yang disampaikan oleh Duta Besar Korea Utara untuk Rusia Kim Hyong Jun dalam jumpa dengan wartawan di Rusia pertengahan Maret ini.
Lebih lanjut ia mengelaborasi bahwa latihan militer yang agresif antara negara tetangga Korea Selatan dan Amerika Serikat telah dilakukan bahkan sebelum Korea Utara memiliki senjata nuklir seperti saat ini.
"Kebijakan Amerika Serikat yang sangat bermusuhan terhadap Korea Utara, pemerasan nuklir dan ancaman, termasuk latihan militer bersama, penyebaran senjata nuklir, menyebabkan kita untuk mengembangkan sendiri kemampuan ofensif nuklir kami," bebernya.
Karena itulah, menurutnya, cukup masuk akal jika negaranya terus memperbaharui teknologi nuklir. Tujuannya tak lain adalah untuk secara radikal menghilangkan bahaya perang nuklir yang berasal dari Amerika Serikat.
"Tindakan defensif militer kita, termasuk uji coba nuklir dan peluncuran rudal balistik, menjadi demonstrasi hak untuk membela diri dan adalah sarana yang nyata pembalasan dan hak yang sah dari negara berdaulat dalam menanggapi ancaman nuklir," lanjutnya.
Karena itulah, ia mempertanyakan sikap Dewan Keamanan PBB yang mengecam uji coba nuklir Korea Utara.
"Korea Utara sangat mengecam ini dan menolak ini karena secara langsung melecehkan kedaulatan sanksi negara melalui resolusi Dewan keamanan PBB, sebagai dokumen kriminal, tanpa legalitas," tegasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: