Ukraina Merasa "Dikhianati" Soal Perjanjian Visa Dengan Uni Eropa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Rabu, 07 Desember 2016, 18:18 WIB
Ukraina Merasa "Dikhianati" Soal Perjanjian Visa Dengan Uni Eropa
Anders Fogh Rasmussen/Reuters
Kecil Besar
rmol news logo Uni Eropa dinilai tidak menepati janjinya untuk menerapkan bebas visa kepada Ukraina.

Ukraina dijanjikan pembebasan visa jika berhasil mencapai sejumlah kondisi, termasuk di antaranya adalah langkah-langkah untuk mengatasi korupsi.

Namun belum juga liberalisasi visa terwujud, Uni Eropa hendak menempatkan mekanisme suspensi darurat.

Mekanisme ini akan membuat Uni Eropa lebih mudah menangguhkan keringanan visa jika blok negara-negara Eropa itu melihat kenaikan tajam jumlah warga Ukraina yang tinggal melebihi batas waktu (overstay) di Uni Eropa, atau peningkatan permintaan suaka atau penolakan pendaftaran kembali dari negara non-Uni Eropa.

"Sementara tentu saja Presiden Ukraina dan delegasinya mencoba untuk menjaga optimisme publik, saya mengerti dengan baik jika mereka kembali ke Kiev dengan perasaan kecewa," kata Penasehat Presiden ukraina Anders Fogh Rasmussen.

"Saya bahkan akan menggunakan kata yang lebih kuat yakni saya pikir itu semacam pengkhianatan dari sisi Uni Eropa dengan mempertimbangkan bahwa Ukraina telah hati-hati memenuhi semua kriteria yang diperlukan untuk liberalisasi visa," kata mantan kepala NATO tersebut. [mel]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA