Castro yang memiliki nama asli Fidel Alejandro Castro Ruz lahir pada 13 Agustus 1926. Ia merupakan anak dari seorang petani kaya Angel MarÃa Bautista Castro y Argiz, yang berimigrasi ke Kuba dari Spanyol.
Ibunya, Lina Ruz González merupakan seorang budak tani yang menjadi simpanan ayahnya yang kemudian menjadi istri sahnya.
Semasa kecil, ia mengenyam pendidikan di sekolah Katolik di Santiago sebelum melanjutkan bangku pendidikan tinggi di Jesuit-run El Colegio de Belen di Havana.
Dalam bidang akademik, ia tidak unggul karena lebih memilih untuk menghabiskan waktunya dalam kegiatan olahraga.
Semasa belajar hukum di Universitas Havana di pertengahan 1940-an ia menjadi aktivis politik dan mengasah keterampilan sebagai pembicara di publik.
Target protesnya semasa muda adalah pemerintahan Kuba yang dipimpin oleh presiden Ramon Grau, yang terperosok dalam tuduhan korupsi.
Ia juga merupakan bagian dari rencana untuk menggulingkan Rafael Trujillo, pemimpin sayap kanan dari Republik Dominika tapi upaya itu digagalkan setelah intervensi Amerika Serikat.
Pada tahun 1948, Castro menikahi seorang wanita bernama Mirta Diaz-Balart, putri seorang politikus kaya Kuba kaya.
Kendati demikian, hal itu tidak juga membuatnya lebih bersahabat dengan elit negara. Sebaliknya, ia justru semakin kental dengan Marxisme.
Castro percaya bahwa masalah ekonomi Kuba pada saat itu adalah akibat dari kapitalisme yang tak terkendali yang hanya bisa diselesaikan dengan revolusi rakyat.
Setelah lulus dari Universitas, Castro mendirikan sebuah praktek hukum tapi gagal untuk mencapai kesejahteraan dan ia terjerat dalam hutang.
Selama itu, ia juga tetap menjadi seorang aktivis poltik dan mengambil bagian dalam serangkaian demonstrasi dengan kekerasan.
Lalu pada tahun 1952, di Kuba terjadi kudeta militer oleh Fulgencio Batista yang menggulingkan pemerintah presiden Kuba, Carlos Prio.
Kebijakan Kuba di bawah pemerintahan Batista justru semakin erat dengan Amerika Serikat dan melakukan penindasan terhadap organisasi sosialis yang berlawanan dengan keyakinan politik Castro.
Pada saat itu, Kuba menjadi surga bagi playboy kaya, dan sebagian besar dijalankan oleh sindikat kejahatan terorganisir. Parktik prostitusi, judi dan perdagangan narkoba menjamur di Kuba.
Melihat hal tersebut, Castro kemudian membangun organisasi yang melakukan gerakan bawah tanah dalam upaya untuk menggulingkan rezim Batista.
Kemudian pada Juli 1953, Castro berencana untuk menyerang barak militer Moncada di dekat Santiago untuk merebut senjata untuk digunakan dalam pemberontakan bersenjata.
Serangan itu gagal dan banyak kaum revolusioner tewas atau ditangkap. Castro adalah salah satu dari sejumlah tahanan yang diadili di bulan September 1953.
Castro menggunakan penampilannya di pengadilan untuk mengekspos kekejaman yang dilakukan oleh tentara yang selanjutnya mengangkat profilnya, khususnya di kalangan anggota pers asing yang diizinkan untuk menghadiri sidang.
Ia kemudian dijatuhi hukuman selama 15 tahun penjara. Dalam acara tersebut, ia dibebaskan dalam amnesti umum Mei 1955 setelah menjabat hanya 19 bulan dalam kondisi relatif nyaman.
Selama waktu yang singkat di penjara dia menceraikan istrinya dan semakin menenggelamkan diri dalam teks Marxis.
Castro kemudian melarikan diri ke Meksiko untuk menghindari penangkapan karena Batista terus menindak lawan-lawannya.
Di Meksiko, ia bertemu dengan seorang revolusioner muda bernama Ernesto "Che" Guevara.
Pada November 1956 Castro kembali ke Kuba dengan 81 sahabat bersenjata di kapal yang hanya mampu menampung 12 orang. Mereka kemudian berlindung di pegunungan Sierra Maestra. Di situ ia meluncurkan kampanye gerilya dua tahun terhadap rezim di Havana.
Kemudian pada tanggal 2 Januari 1959, tentara pemberontak memasuki ibukota Kuba dan Batista melarikan diri. Castro pun duduk di kursi kekuasaan.
Ratusan mantan pendukung Batista dieksekusi setelah uji coba yang banyak pengamat asing menganggapnya kurang adil.
Namun Castro menanggapi hal tersebut dengan menegaskan bahwa keadilan revolusioner tidak didasarkan pada ajaran hukum, tetapi pada keyakinan moral.
Pemerintah baru Kuba baru berjanji untuk menyerahkan lahan kepada rakyat dan membela hak-hak orang miskin.
Tapi pemerintah di bawah Castro dengan cepat memberlakukan sistem satu partai. Ratusan orang dikirim ke penjara dan kamp kerja paksa sebagai tahanan politik.
Ribuan warga Kuba yang berasal dari kelas menengah banyak yang melarikan diri ke pengasingan, mereka menyebar ke sejumlah wilayah di Amerika Serikatm, terutama di Miami.
Selama kepemimpinannya, Castro bersikeras bahwa ideologi yang ia terapkan adalah pertama dan terutama di Kuba.
"Tidak ada komunisme atau Marxisme, tapi demokrasi perwakilan dan keadilan sosial dalam ekonomi terencana," katanya pada saat itu.
Pada tahun 1960, Fidel Castro menasionalisasi semua bisnis milik Amerika Serikat di pulau itu. Sebagai tanggapan, Washington menempatkan Kuba di bawah embargo perdagangan yang berlangsung dalam abad ke-21.
Pada bulan April 1961, Amerika Serikat berusaha menggulingkan pemerintahan Castro dengan menggalang pasukan swasta dari warga Kuba di pengasingan untuk menyerbu pulau.
Di Teluk Babi, pasukan Kuba berhasil menghalau penyerbu, membunuh banyak orang dan menangkap sekitar 1.000 orang lainnya.
Setahun kemudian, pesawat pengintaian Amerika Serikat menemukan rudal Uni Soviet dalam perjalanan mereka ke situs di Kuba. Setelah menjadi sorotan, Presiden Khrushchev di Rusia memutuskan untuk menarik rudalnya dari Kuba dengan imbalan penarikan rahasia senjata Amerika Serikat dari Turki.
Kendati demikian, Fidel Castro tetap menjadi musuh nomor satu Amerika Serikat. CIA terus mencoba untuk membunuhnya, salah satu operasi paling terkenal adalah Operation Mongoose. Salah satu gagasan yang pernah ada untuk membunuh CAstro adalah dengan menjejalinya dengan rokok cerutu yang berisi bahan peledak.
Karena pemberlakukan embargo Amerika Serikat, Castro mengandalkan arus perdagangan dan bantuan dari Soviet.
Uni Soviet mengalirkan uang ke Kuba dan membeli sebagian besar panen tebu Kuba.
Semasa kepemimpinannya, Castro pernah mengirimkan pasukannya ke Afrika terutama di Angola dan Mozambik untuk mendukung gerilyawan Marxist.
Lalu pada pertengahan tahun 1980an, terjadi pergeseran geopolitik yang besar di Uni Soviet dan Moscow menarik diri dari perekonomian Kuba dengan menolak untuk mengabil gula lagi.
Di bawah embargo Amerika Serikat dan terputusnya dukungan Uni Soviet, terjadi krisis ekonomi kronis di Kuba. Di pertengan tahun 1990an, semakin banyak warga Kuba yang melarikan diri dari negara. Jika sebelumnya warga Kuba pergi ke pengasingan karena motif politik, di pertengahan 1990an, mereka yang melarikan diri didominasi karena motif ekonomi.
Pada tanggal 31 Juli 2006, hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-80, Castro menyerahkan kekuasaan sementara kepada Raul setelah menjalani operasi usus.
Kesehatannya terus memburuk. Awal tahun 2008, Castro mengumumkan bahwa ia tidak akan menerima posisi presiden dan komandan-in chief pada pertemuan berikutnya Majelis Nasional.
Sejak saat itu, ia resmi menarik diri dari kehidupan publik. Ia baru kembali muncul di hadapan publik pada Juli 2010 saat berdiskusi soal tensi AS dengan Iran dan Korea Utara.
Setelah beberapa dekade, tahun 2014 menjadi awal baru bagi Kuba. Presiden Amerika Serikat Barack Obama pada Desember 2014 mengumumkan rencana untuk memperbaiki hubungan dengan Kuba.
Castro menyambut langkah menyatakan itu dan menyebutnya sebagai sebuah langkah positif untuk membangun perdamaian di kawasan.
Jumat kemarin (25/11), Fidel Castro menghembuskan napas terakhirnya di Kuba di usia 90 tahun. Setelah puluhan tahun perjalanan hidunya serta perjuangannya untuk Kuba, Castro dikenang masyarakat kuba dan dunia. Ada yang mengenangnya sebagai David yang bisa berdiri dengan Goliath of America, namun tak sedikit juga yang membecinya.
Namun walau bagaimanapun, Fidel Castro lekat dengan perjuangan di Kuba. Castro adalah Kuba dan Kuba adalah Castro. Selamat jalan, Fidel Castro!
[mel]
BERITA TERKAIT: