Akibat Konflik, Libya Terancam Devaluasi Mata Uang

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Senin, 21 November 2016, 17:15 WIB
Akibat Konflik, Libya Terancam Devaluasi Mata Uang
Libya/Net
rmol news logo Pemerintah Libya menghadapi ancaman devaluasi paksa mata uang negara dan mengakhiri subsidi bahan bakar .

Sepanjang akhir pekan kemarin, dinar Libya runtuh 7 persen terhadap dolar Amerika Serikat dan untuk pertama kalinya diperdagangkan pada angka enam terhadap dolar AS di pasar gelap. Tingkat resminya adalah 1,4 dinar untuk satu dolar AS.

Pemimpin Barat dan lembaga keuangan seperti Bank Dunia melakukan intervensi langsung terhadap pengambilan keputusan ekonomi bulan ini dengan menggelar pertemuan di Roma dan London.

Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa rencana ekonomi Libya untuk tahun 2017 akan diterbitkan 1 Desember besok. Mencakup di antaranya adalah langkah-langkah terkait mata uang dan pencabutan subsidi BBM.

Sejak konflik beberapa tahun terakhir ekonomi Libya mulai memburuk. Antrian di bank, pasokan medis dan pemadaman listrik adalah hal yang biasa terjadi di Libya.

Tiga tahun lalu, cadangan devisa berada di atas 100 miliar dolar AS. Namun pada akhir tahun ini cadangan devisa hanya berkisar 43 miliar dolar AS.

Sedangkan dalam produksi minyak Libya terganggu akibat perang sipil yang terjadi. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA