Menurut hasil wawancara hukum dengan sejumlah anak dari kamp tersebut yang hidup tanpa wali menunjukkan adanya dugaan bahwa mereka dipaksa menjadi pekerja tak dibayar.
Mereka mengaku takut menolak pekerjaan karena takut membahayakan peluang mereka untuk mencari suaka di Inggris.
Dari 33 anak laki-laki yang diwawancarai oleh badan amal, Safe Passage UK, seperempat dari mereka mengatakan bahwa mereka tidak diberi pakaian bersih.
Salah satu mereka yang tinggal di sebuah kamp di Perancis mengatakan bahwa ia dipaksa bekerja memetik apel sepanjang hari.
"Kami dibiarkan memakan (apel) yang busuk. Sisanya dibawa pergi untuk dijual di Perancis. Kami hanya ingin bersama keluarga kami di Inggris," begitu kutipan wawancara dengan anak tersebut.
Sedangkan anak lainnya mengatakan bahwa dipaksa untuk memilih buah yang kualitas baik setiap harinya.
"Kami takut untuk tidak melakukannya dalam kasus itu mempengaruhi klaim suaka kami. Bagaimana jika mereka tidak membiarkan saya tinggal di sini dan menendang saya keluar?" kata anak lainnya.
Juli lalu Perdana Menteri Inggris yang baru Theresa Mei bersumpah untuk membuat masalah pengungsi anak ini menjadi prioritas untuk membersihkan dunia dari kejahatan biadab dan perbudakan modern.
[mel]
BERITA TERKAIT: