Pemindahan Makam Mantan Diktator Filipina Diwarnai Haru Dan Kemarahan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 18 November 2016, 19:29 WIB
Pemindahan Makam Mantan Diktator Filipina Diwarnai Haru Dan Kemarahan
Batu nisan Marcos/BBC
Kecil Besar
rmol news logo Proses pemindahan makam mantan diktator Filipina Ferdinand Marcos diwarnai dengan haru dan kemarahan.

Diketahui bahwa Marcos berkuasa selama 25 tahun di Filipina dari tahun 1965 hingga 1986. Ia jatuh dari kekuasaan setelah lebih dari satu juta orang turun ke jalan pada tahun 1986 untuk menggulingkannya dalam apa yang dikenal sebagai revolusi.

Marcos dan isterinya Imelda Marcos kemudian melarikan diri ke Hawaii. Ia meninggal di Amerika Serikat pada tahun 1989 di usia 72 tahun. Jenazahnya dibawa kembali pada tahun 1993 dan kemudian dipajang di kota kelahirannya Batac.

Semasa kepemimpinannya, ia dituduh menyiksa, menculik dan membunuh ribuan lawan serta penjarahan miliaran dolar dari negara tersebut.

Namun di sisi lain ada juga masyarakat Filipina yang menganggapnya masa kepemimpinan Marcos merupakan periode keamanan, ketertiban dan pembangunan negara.

Ia ditolak untuk dimakamkan di taman makam pahlawan Filipina karena dinilai bukan pahlawan.

Namun President Rodrigo Duterte Agustus kemarin memberikan izin untuk pemakaman Marcos di taman makam pahlawan. Ia menyebut Marcos sebagai tentara Filipina.

Supreme Court Filipina menyetujui langkah tersebut awal November ini.

Proses pemindahan makam dilakukan pekan ini secara tertutup dan dikabarkan BBC, pemakaman dilakukan secara sangat sederhana. Upacara pemakaman hanya dihadiri oleh pihak keluarga dan dijaga polisi.

Pemakaman itu merupakan hal yang emosional di Filipina. Karena sebagian masyarakat memandang Marcos sebagai simbol dari penyalahgunaan kekuasaan.

Wakil presiden Filipina yang juga pengacara hak asasi manusia Leni Robredo, berada di antara para kritikus secara tegas menyatakan bahwa Marcos bukan pahlawan. Hal itu ia kampanyekan di sosial media.

Tapi putri sulung Marcos Imee Marcos mengucapkan terima kasih presiden Filipina karene mengizinkan pemakaman tersebut. [mel]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA