Filipina Tak Selama Jadi Saudara Kecil Amerika Serikat

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 16 September 2016, 18:24 WIB
Filipina Tak Selama Jadi Saudara Kecil Amerika Serikat
Rodrigo Duterte/Reuters
Kecil Besar
rmol news logo Filipina berkomitmen untuk tetap beraliansi dengan Amerika Serikat, namun menolak untuk didikte terkait dengan masalah HAM.

Begitu penegasan dari Menteri Luar Negeri Filipina Perfecto Yasay pada Kamis (15/9).

Penegasan itu dibat menyusul pernyataan kontroversial Presiden Filipina Rodrigo Duterte baru-baru ini untuk penarikan pasukan Amerika Serikat dari Filipina.

Yasay menyebut bahwa pernyataan Duterte ini telah disalahpahami. Karena langkah tersebut diambil untuk sementara waktu demi menjaga pasukan Amerika Serikat dari bahaya, sementara pasukan Filipina melakukan serangan terhadap militan Abu Sayyaf.

Sedangkan dalam kasus lain, yakni kritik Amerika Serikat soal perang melawan narkoba yang dilakukan Duterte, di mana ribuan orang telah tewas, Yasay menyebut bahwa Filipina tidak akan memafkan pembunuhan secara ilegal.

Namun demikian, Yasay menegaskan bahwa terkait masalah tersebut, harusnya hubungan kedua negara didasari pada sikap saling menghormati dan Filipina tidak ingin selalu didikte terkait masalah HAM.

"Saya meminta teman-teman Amerika kami, pemimpin Amerika, untuk melihat aspirasi kami," kata Yasay.

"Kita tidak bisa selamanya menjadi saudara kecil dari Amerika. Kita harus berkembang, kita harus tumbuh dan menjadi kakak dari orang-orang kita sendiri," tegasnya. [mel]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA