Bank Dunia: Polusi Udara Rugikan Ekonomi Dunia

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Jumat, 09 September 2016, 16:52 WIB
Bank Dunia: Polusi Udara Rugikan Ekonomi Dunia
Polusi udara/The Guardian
Kecil Besar
rmol news logo Polusi udara menyebabkan kerugian dunia hingga triliunan dolar AS setiap tahunnya dan menghambat pembangunan di banyak negara.

Begitu kata Bank Dunia dalam studi terbaru soal biaya ekonomi dari polusi indoor dan outdoor.

Bank Dunia menemukan bahwa pada tahun 2013, China kehilangan hampir 10 persen dari PDB, India 7,69 persen dan Sri Lanka serta Kamboja sekitar 8 persen.

Bukan hanya negara-negara berkembang, negara maju pun kehilangan puluhan miliar dolar per tahun melalui hari kerja yang hilang serta biaya kesejahteraan dari kematian dini.

Udara kotor menyebabkan Inggris rugi sekitar 7,6 miliar dolar AS, Amerika Serikat 45 miliar dolar AS dan Jerman 18 miliar dolar AS.

Sedangkan Zimbawe, Malawi dan Republik Afrika Tengah menjadi negara yang paling tercemar di dunia.

Dengan menambahkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia, Bank Dunia mengatan bahwa polusi udara sekarang telah membunuh sekitar 5,5 juta orang setiap tahunnya, atau satu dari 10 orang di seluruh dunia.

Masalah polusi udara ini menjadi penyebab utama keempat kematian dini di seluruh dunia setelah rokok, diet dan obesitas. Pasalnya polusi udara menyebabkan penyakit lain seperti kanker, jantung, paru-paru dan penyakit pernapasan. Polusi udara bertanggung jawab untuk lebih dari enam kali jumlah kematian yang disebabkan oleh malaria.

Tanpa termasuk biaya untuk mengobati penyakit yang terkait dengan polusi, Bank DUnia menghitung bahwa pada tahun 2013 kematian prematur saja menelan biaya ekonomi global sekitar 225 miliar dolar AS.

Tapi biaya ekonomi dunia naik menjadi lebih dari 5 triliun dolar AS ketika biaya kesejahteraan dihitung.

Bahkan, angka-angka tersebut mungkin tidak mencerminkan biaya penuh polusi udara.

"Skala masalahnya adalah benar-benar menakutkan. Orang miskin lebih mungkin untuk tinggal di daerah tercemar dan kurang mampu mengakses layanan kesehatan," kata ekonom lingkungan senior Bank Dunia yang juga merupakan pemimpin studi Urvashi Narain. [mel]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA