Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Presiden Kolombian Juan Manuel Santos dan pemimpin FARC Rodrigo Londono dengan disaksikan oleh Presiden Kuba, Raul Castro.
Poin-poin yang disepakati antara kedua belah pihak, seperti dimuat BBC, antara lain adalah komitmen bahwa FARC akan melucuti senjatanya selama kurun waktu 180 hari ke depan, pembentukan zona serta kamp transisi sementara bagi sekitar 7.000 pasukan FARC, ketentuan bahwa tidak ada warga sipil yang diijinkan masuk ke kamp-kamp FARC demi menjamin keamanan pemberontak, serta ketentuan bahwa badan monitor PBB akan menerima semua senjata yang dimiliki oleh FARC.
Perjanjian gencatan senjata itu dibentuk setelah tiga tahun pembicaraan damai yang digelar di Havana Kuba.
Dengan perjanjian gencatan senjata tersebut, maka Kolombia selangkah lebih dekat dengan kesepakatan akhir untuk mengakhiri konflik yang telah terjadi sejak tahun 1960an itu.
"Semoga ini menjadi hari terakhir perang," kata Rodrigo Londono usai berjabat tangan dengan Presiden Kolombia Juan Manuel Santos pada upacara di Havana.
Ucapan bahagia juga diutarakan oleh Santos pada kesempatan yang sama.
"Ini berarti tidak lebih dan tidak kurang merupakan akhir FARC sebagai kelompok bersenjata," tutur Santos seperti dimuat
BBC.
Pemberontakan kelompok FARC sendiri berakar dari masalah ketidaksetaraan sosial ekonomi yang terjadi di kawasan Amerika Latin pada sekitar tahun 1960an.
[mel]
BERITA TERKAIT: