"Saya akan tetap lantang dan jelas menyebut bahwa saya adalah seorang feminis," kata Trudeau di hadapan para diplomat, perwakilan kelompok advokasi serta pimpinan perempuan PBB Phumzile Mlambo-Ngcuka dalam sesi ke-60 komisi atas status perempuan (Rabu, 16/3).
Dalam kesempatan itu ia menegaskan kembali dukungannya atas kesetaraan gender.
"Dengan menyebut diri saya sebagai feminis, itu artinya saya meyakini soal adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan," sambungnya seperti dimuat
The Guardian.
Ucapan Trudeau itu agaknya bukan sekedar omong kosong. Pasalnya, Perdana Menteri berusia 44 tahun itu pada tahun lalu merilis kabinet dengan porsi posisi laki-laki dan perempuan yang setara.
Ia pun menyerukan kepada pemimpi dunia lainnya untuk mengikuti jejak Kanada dalam penunjukkan kabinet agar tidak melupakan potensi perempuan.
Dalam kesempatan tersebut Trudeau juga menceritakan tentang keluarganya. Kata Trudeau, ibunya, Margaret Trudeau merupakan sosok aktivis hak-hak perempuan.
Sedangkan mendiang ayahnya, yang juga merupakan mantan Perdana Menteri Kanada Pierre Elliott Trudeau, mewariskan upaya promosi hak asasi manusia yang juga merangkul prinsip-prinsip feminisme.
Untuk diketahui, Kanada sendiri menduduki peringkat ke-30 secara global dalam laporan kesenjangan gender 2015 Forum Ekonomi Dunia. Laporan tersebut mengukur bagaimana suatu negara mendistribusikan sumber daya perempuan dan laki-laki dalam sejumlah posisi serta lingkup. Peringkat ke-30 menunjukkan bahwa tidak terlalu terlihat ada kesenjangan gender di Kanada.
[mel]
BERITA TERKAIT: