Begitu laporan yang dirilis oleh
New York Times akhir pekan ini seperti dikutip
Reuters.
Dalam laporan tersebut ditemykan bahwa militan-militan ISIS menggunakan kontrasepsi baik oral maupun suntik untuk memastikan bahwa para wanita yang menjadi korban pelampiasan nafsu mereka tidak hamil sehingga bisa terus melayani para militan lainnya.
Laporan tersebut dibuat setelah dilakukan wawancara dengan puluhan wanita Yazidi yang melarikan diri dari ISIS.
"Setidaknya dalam satu kasus, seorang wanita dipaksa untuk melakukan aborsi agar bisa kembali melakukan hubungan seksual," begitu isi laporan tersebut.
Kelompok Yazidi sendiri dinilai oleh ISIS sebagai musuh karena mengandung unsur Kristen, Zoroastrianisme dan Islam.
Sampai akhir tahun lalu, sekitar 5.000 pria dan wanita Yazidi ditangkap oleh ISIS sejak musim panas 2014. Sekitar 2.000 di antaranya berhasil melarikan diri dari ISIS.
Dalam laporan yang sama, dengan mengutip seorang ginekolog yang melakukan pemeriksaan, ada lebih dari dari 700 warga Yazidi mengaku menjadi korban pemerkosaan militan ISIS. Mereka pergi ke klinik-klinik yang didukung PBB di Irak. Dari ratusan wanita Yazidi yang melapor, hanay sekitar 5 persen yang diketahui telah hamil selama menjadi korban ISIS.
[mel]
BERITA TERKAIT: