Pencabutan paspor itu dilakukan karena remaja bernama Oliver Bridgeman itu dinilai sebagai bagian dari kelompok teroris oleh pemerintah Australia. Akibatnya, ia tertahan di Suriah dan tidak bisa kembali ke negaranya.
Kekecewaan Bridgeman atas keputusan tersebut disampaikanya dalam sebuah wawancara akhir pekan ini.
Ia menjelaskan bahwa keberadaannya di Suriah sejak Mei tahun lalu adalah untuk melakukan misi kemanusiaan yakni membantu mendistribusikan pasokan bantuan ke kamp-kamp pengungsi dan anak-anak.
Selama menjalani misinya, ia kerap memposting foto kegiatannya di akun Facebook miliknya. Ia kerap mendistribusikan obat-obatan, makanan dan kebutuhan hidup lainnya ke lokasi pedesaan dekat perbatasan Turki dengan Suriah. Ia juga kerap memposting dan menekankan bahwa ia tidak terlibat dengan organisasi teroris apapun.
Karena itulah ia mengaku terkejut dan kecewa ketika pemeirntah Australia mencabut paspornya atas tuduhan keterlibatan dengan kelompok teror. Ia menggambarkan hal tersebut sebagai sesuatu yang teramat konyol.
"Pada dasarnya, hal itu ada hubungannya dengan pekerjaan bantuan saya," katanya.
Sebelumnya, pemerintah Australia memang mengeluarkan aturan ketat bagi warga negaranya yang melakukan perjalanan ke daerah konflik.
Menteri Imigrasi Australia Peter Dutton bulan lalu menekankan bahwa pihaknya akan mencabut paspor warga Australia yang bepergian ke zona konflik di Timur Tengah.
"Orang yang pergi ke zona konflik, meski memiliki tujuan baik, pada akhirnya bisa memicu kesedihan dan stres pada keluarga mereka sendiri," kata Dutton.
"Ini adalah hal yang harus terlebih dahulu direnungkan sebelum mereka pergi," tegasnya seperti dimuat
The Guardian.
[mel]
BERITA TERKAIT: