Begitu laporan terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang pekan ini. Laporan tersebut dibuat berdasarkan survei yang dilakukan oleh pemerintah Jepang terhadap lebih dari 9.600 wanita berusia antara 25 hingga 44 tahun yang saat ini bekerja atau yang sebelumnya pernah bekerja.
Hasilnya ditemukan bahwa sekitar 30 persen responden wanita, baik yang bekerja patuh ataupun purna waktu mengaku pernah dilecehkan secara seksual di tempat kerja. Sedangkan di kalangan pekerja wanita purna waktu saja, ada sekitar 35 persen responden yang mengaku mengalami pelecehan di tempat kerja.
Lebih dari setengah responden wanita mengaku umumnya mereka mengalami komentar yang umumnya dilontarkan oleh rekan kerja laki-laki, baik tentang penampilan mereka, usia maupun tampilan fisik.
Sedangkan dalam kasus yang lebih serius, sebanyak 17 persen responden mengaku pernah sentuh rekan kerja pria di bagian yang tidak seharusnya atau bahkan ditekan untuk berhubungan seksual.
Dalam survei yang sama, 24,1 persen wanita mengaku bahwa pelaku yang paling sering melecehkan secara seksual adalah bos atau atasan mereka.
Survei tersebut juga mengungkapkan keengganan umum di kalangan wanita untuk mengajukan keluhan resmi tentang apa yang mereka alami. 63 persen responden mengatakan bahwa mereka memilih diam atas pelecehan yang mereka alami.
Laporan tersebut muncul di tengah upaya Jepang untuk meningkatkan kuota wanita di tempat kerja, utamanya di posisi-posisi senior.
Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe sendiri telah menetapkan target yang ambisius untuk mengisi 30 persen dari posisi kepemimpinan dengan wanita pada tahun 2020 mendatang. Demikian seperti dilansir
The Guardian (Rabu, 2/3).
[mel]
BERITA TERKAIT: