ISIS menuding bahwa jurnalis berusia 30 tahun bernama Ruqia Hassan itu merupakan mata-mata.
Ruqia sendiri tewas dibunuh pada September tahun lalu. Namun kabar soal kematiannya baru santer terdengar baru-baru ini.
Dikabarkan
The Guardian (Rabu, 6/1), Ruqia yang menggunakan nama pena Nissan Ibrahim memposting tulisan soal bagaimana kehidupan sehari-hari penduduk di Raqqa di akun Facebooknya. Wilayah itu diketahui merupakan salah satu basis pendudukan ISIS.
Ia diketahui pernah mengenyam pendidikan filosofi di Universitas Aleppo dan kemudian bergabung dengan barisan pemerintah Presiden Suriah Bashar al-Assad. Ia menolak meninggalkan Raqqa kendati ISIS menduduki wilayah tersebut.
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: