PASCA AKSI BAKAR DIRI

Dilema Keamanan dan Kecepatan Shinkansen

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Kamis, 02 Juli 2015, 14:47 WIB
Dilema Keamanan dan Kecepatan Shinkansen
ilustrasi/net
rmol news logo Kasus bakar diri yang dilakukan seorang pria 71 tahun di dalam kereta cepat shinkansen menimbulkan pertanyaan soal pemeriksaan keamanan yang diterapkan di sistem transportasi Jepang.

Namun hal tersebut justru menjadi dilema tersendiri bagi sistem transportasi Jepang. Pasalnya, sistem transportasi di Jepang, termasuk kereta, selalu beroperasi tepat waktu dan tidak mentolerir keterlambatan.

Terlebih lagi, antusiasme masyarakat untuk menggunakan transportasi publik seperti kereta juga tinggi, sehingga sulit untuk memeriksa barang bawaan setiap penumpang di stasiun.

"Melakukan pemeriksaan bagasi telah didiskusikan di masa lalu, tapi sulit (untuk dilakukan)," kata salah seorang pejabat Kementerian Transportasi Jepang seperti dimuat Japan Times (Kamis, 2/7).

Salah satu operator kereta Central Japan Railway Co (JR Tokai) sendiri menyebut bahwa setiap hari, setidaknya ada 424 ribu penumpang yang menggunakan kereta cepat.

"Sulit untuk melakukan pemeriksaan keamanan satu per satu seperti di bandara jika kita mempertimbangkan kenyamanan," kata seorang pejabat JR Tokai.

Namun demikian ia menyebut bahwa perusahaan kereta api memperkuat keamanan dengan penjaga keamanan serta kamera yang dipasang.

Hal senada juga diungkapkan oleh operator kereta lainnya, East Japan Railway Co.

"Tidak realistis mengingat berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan bagasi," kata seorang juru bicara East Japan Railway Co.

Perlu diketahui, seorang pria pada Selasa kemarin melakukan aksi bunuh diri dengan cara menyiramkan cairan yang mudah terbakar di atas kepalanya saat berada di dalam shinkansen Nozomi 225 yang tengah melaju dari stasiun Tokyo ke stasiun Shin-Osaka. Tak lama ia pun langsung membakar dirinya sendiri.

Api yang membara seketika itu menewaskan pria tersebut dan melukai dua orang lainnya yang berada di dekatnya.

Masinis kereta segera menghentikan kereta tak lama setelah bel darurat berbunyi dan segera memedamkan api dengan menggunakan salah satu alat pemadam yang dipasang di kompartemen.

Pihak Kementerian Transportasi menyebut bahwa alat pemadam kebakaran yang dipasang di kompartemen terbukti berguna meredam api agar tidak menjalar lebih jauh.

Peningkatan standar keamanan di kereta api di Jepang diketahui dilakukan mulai tahun 2004 lalu setelah terjadi pembakaran di kereta bawah tanah Daegu Korea Selatan pada Februari 2003 lalu. Dalam insiden tersebut, seorang pria menuangkan bensin saat naik kereta dan kemudian membakarnya. Akibatnya, sekitar 200 orang tewas karena api menyebar dengan cepat dalam kereta yang melaju tersebut. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA