Ho Chi Minh City, Kota Ramah Kepada Turis & Pejalan Kaki

Minggu, 07 Juni 2015, 16:39 WIB
Ho Chi Minh City, Kota Ramah Kepada Turis & Pejalan Kaki
patung Presiden Ho Chi Minh
rmol news logo Sebelum mengunjungi Vietnam, banyak teman Indonesia belum pernah berwisata di negeri ini.

Kisah masa lalu perang Vietnam dan istilah Vietkong (orang Vietnam pembela Vietnam Utara pro kemerdekaan), masih mewarnai pemikiran mereka. Inilah kenyataan betapa kurangnya informasi mengenai kondisi Vietnam saat ini.

Wartawan Rakyat Merdeka Irma Yulia, berkesempatan pelesiran ke Vitnam. Rakyat Merdeka diajak berkeliling ke kota Ho Chi Minh, Tien Giang, Ben Tre, Nha Trang, Da Lat pada 19-24 Mei lalu.

Ajang ini merupakan pro­gram Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Vietnam melalui Vietnam National Administration of Tourism (VNAT) dalam mempromosikan pari­wisata. Berikut laporannya.

Setelah empat jam penerban­gan dari Jakarta, kami mendarat di bandara internasional Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City. Kota yang disingkat menjadi HCMC, dulunya bernama Saigon, meru­pakan kota terbesar di Vietnam. Sebelum unifikasi Vietnam 2 Juli 1976, ketika negara ini masih terpecah menjadi Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, Saigon merupakan Ibukota Vietnam Selatan. Inilah sebabnya kenapa kota dengan penduduk sekitar sembilan juta jiwa ini terlihat modern.

Ho Chi Minh City tempat ber­campurnya budaya Prancis den­gan Timur, dan tempat Perang Vietnam masih dikenang seperti baru terjadi kemarin. Kami tiba pada 19 Mei, bertepatan dengan peringatan 125 tahun Presiden Vietnam, Chu Tich Ho Chi Minh (1890-1969).

Jasadnya diawetkan dalam peti kaca dengan balutan paka­ian tradisional dan sandal karet khas Vietnam. Tiap tahunnya, jenazah Ho dikirim ke Rusia untuk dirawat ulang agar tetap segar dan awet.

Suasana ramai sangat terasa dari hotel kami, Royal Hotel Sai Gon yang berlokasi di Nguyen Hue, District 1, Ho Chi Minh City. Terdapat patung Presiden Ho Chi Minh yang menjadi spot pertemuan dan berfoto.

Jalanan dipadati pejalan kaki dan sepeda motor. Sepanjang jalan berhiaskan pepohonan dan lampu-lampu kota, membuat suasana malam semakin meriah. Tatatan kota dibuat sedemikian ra­mah bagi pejalan kaki. Trotoarnya lebar dan bersih. Tak ada peda­gang lalu lalang. Semuanya tera­tur, rapi dan bersih.

Rambu lalulintas disediakan untuk pejalan kaki yang ingin menyeberang. Orang tua, remaja, sepasang kekasih, saling berceng­krama. Malam semakin larut namun suasana tetap ramai.

Selain hotel, toko-toko yang menjual barang bermerk berjejer rapi. Dilihat dari jendela kamar hotel pun, bangunan di sekitar sini lebih terlihat seperti rumah susun. Bertingkat dengan cat putih, polos.

Di hotel dan restoran kita bisa memilih makanan yang tidak mengandung daging karena di setiap menu terdapat gambar pig (babi). Jadi, kita tetap bisa makan dengan tenang dan aman. Ketika santap malam di restoran Chateau, sekitar 10 menit meng­endarai bis dari hotel, hidangan pembuka, spring roll udang disajikan dengan hiasan kulit buah nanas yang sudah didesain seperti seekor ayam. Kemudian kami disuguhi sup dalam batok kelapa.

Awalnya, kami mengira akan disajikan es kelapa. Membayangkannya sungguh nikmat karena kami merasa kegerahan. Namun, begitu dilihat, batok ke­lapa tersebut berisi sup. Rasa dan isinya hampir sama dengan sup di Indonesia, potongan labu, ken­tang, wortel dan ayam. Setelah sup, makanan utamanya, ikan goreng dan nasi goreng.

Da Lat Kota Cinta


Perjalanan hari ini, dilanjut­kan menuju Da Lat, kota pegu­nungan. Udaranya pun lebih segar dan dingin dibanding Nha Trang. Kedua tempat ini jelas memiliki khas masing-masing. Nha Trang dengan keindahan pantai dengan lautnya biru. Sedangkan Da Lat, tempat yang sejuk nan romantis dengan hamparan aneka ragam bunga, sehingga menimbulkan suasana romantis.

Memasuki kota ini, kita akan disuguhi pemandangan bangunan rumah dan villa bergaya khas Prancis. Ada banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di sini. Seperti air terjun, pagoda, kuil dan Da Lat Cathedral.

Namun, dari semua tampat tersebut, ada satu lokasi wisata yang sangat menarik perha­tian wisatawan. Yakni lembah cinta atau biasa disebut Valley of Love. Dulunya, tempat ini bernama lembah Hoa Binh yang artinya damai.

Sambil menyusuri taman yang dikelilingi pohon pinus, kita akan melihat sebuah danau yang di tengahnya terdapat keran berukuran besar, berdiri tanpa pipa penyangga sementara air terlihat mengalir dari keran itu.

Untuk menuju keran tersebut, kita harus melewati jembatan kecil yang di sisi-sisi pagarnya dipenuhi gembok-gembok cinta. Ya, banyak pasangan kekasih yang sengaja datang ke sini untuk memanjatkan harapan dan doa agar kisah cintanya abadi.

Dengan menggantungkan gembok cinta di sisi pagar jem­batan, mereka akan membuang kuncinya ke tengah danau Da Thien. Namun, saking ban­yaknya pasangan kekasih yang melakukan hal itu, akhirnya pengelola membatasi jumlah pengunjung yang ingin me­masang gembok cinta.

Sebelum menyeberangi jem­batan, buat pasangan kekasih yang tidak membawa gembok, bisa membeli gembok cinta den­gan macam-macam design yang berwarna-warni dan ukuran yang kecil-kecil.

Kota Da Lat memang dikenal sebagai kota cinta. Hal ini ber­mula pada sebuah cerita cinta layaknya kisah sedih Romeo dan Juliet. Karenanya, Valley of Love yang berlokasi 6 kilometer dari Da Lat, menjadi saksi cinta dua manusia yang hubungan asmaranya tidak disetujui orang tua dari etnis yang berbeda di Da Lat.

Karena pertentangan dua keluarga tersebut, keduanya memutuskan untuk pergi men­inggalkan kampung halaman dan lari dari keluarganya mas­ing-masing. Hingga tibalah keduanya di tempat ini, mereka hidup bersama dan menanam banyak ragam bunga sebagai tanda kepedihan cinta.

Kota yang berada di Provinsi Lamdong ini, memiliki luas lahan 7 ribuan hektar untuk di­tanami bunga-bunga. Setiap kali panen, bunganya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan di dalam kota saja. Tetapi juga diekspor ke berbagai negara, khususnya Eropa.

Setiap dua tahun sekali sejak 2005, digelar festival bunga yang diselenggarakan di akhir tahun. Sedikitnya ada sekitar 5 ribu keluarga yang saat ini me­nanam bunga untuk persiapan festival tersebut.

"Setiap tahunnya ada sekitar 4 juta pengunjung di Da Lat. Sebanyak 250 ribunya kebanyakan masih dari Asia," jelas Direktur Deputi Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata Lamdong, Nguyen Thi Bich Ngoc usai makan malam penyambutan delegasi Indonesia Fam Trip to Vietnam, di Hotel Ngoc Lan, Da Lat.

Nikmati Diving & Sensasi Mandi Lumpur


Satu hari dua malam, rasanya kurang puas untuk menjelajah semua tempat wisata di sekitar Distrik 1 kota Ho Chi Minh. Untungnya, sebelum bertolak menuju bandara Tan Son Nhat, menuju Na Thrang, kami masih sempat untuk melihat-lihat Saigon Central Post Office atau dalam bahasa Vietnam disebut Buu Dien Trung Tam Sai Gon.

Kantor pos yang dibangun pada awal abad ke-20 itu, kini menjadi salah satu tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Gedung tua dengan gaya arsitek­tur khas Prancis, bangunan ini masih terawat baik.

Di sekitar lokasi ini, terdapa penduduk yang menjajakan kartu ucapan unik. Begitu kartu ucapan yang terlipat itu dibuka, akan timbul guntingan kertas yang membentuk pepohonan, atau ban­gunan bersejarah yang menjadi ciri khas Ho Chi Minh City.

Untuk kartu berukuran se­dang, harganya sampai 30.000 dong atau sekitar Rp 18 ribu. Sementara yang besar 60.000 dong (sekitar Rp 37.000).

Tepat di seberang kantor pos, terdapat Notre Dame Chatedral yang juga dibangun masa pen­dudukan Prancis (1863-1880) dengan ketinggian sampai 60 meter. Tepat di depan gereja ini, terdapat taman yang di tengahnya berdiri patung Bunda Maria. Tak jauh dari sana ada kuil dan masjid, Central Mosque HCMC.

Vietnam memang sangat men­junjung tinggi kepercayaan dan agama yang dianut setiap orang. Dari Sembilan juta penduduk Vietnam, mayoritas beragama Budha, kemudian Katolik, Kristen dan tidak sedikit juga yang tidak beragama. Selain itu, di sana juga terdapat agama baru yang disebut Cao Dai.

Di Na Thrang, udara panas menyengat kulit. Siap-siap un­tuk menggunakan sunblock. Lingkungan di sekitar bandara masih terlihat gersang dan terli­hat sepi. Awalnya, kami mengira mendatangi kota sepi yang tidak ada penduduknya.

Jalanan masih sepi dari ken­daraan. Hanya satu dua yang melintas. Rumah dan bangunan lainnya pun tidak terlalu ramai.Hanya ada 200.000 penduduk yang tinggal di Na Trang.

Sampai akhirnya, setelah set­engah jam perjalanan dengan bus, kami berhenti di pelabuhan kecil tempat speed boat bersan­dar. Wow, pantai yang indah, bersih. Tidak terlihat sampah di pinggiran pantai.

Sejauh mata memandang, tem­pat ini memang indah. Pantainya dikelilingi bukit-bukit tinggi. Dengan speed boat ini, kami hen­dak menyeberang ke tiga pulau sekaligus. Pulau Hon Mun untuk scuba diving, Pulau Hon Tam untuk makan siang dan Pulau Con Se Tre untuk relaksasi.

Di Pulau Hon Tam, makanan ter­saji buffet. Segala macam seafood tersedia. Minuman bir kaleng khas Vietnam juga disediakan di sini, seperti beer Saigon dan 333. Selain terdapat restoran, di pulau ini juga ada kolam renang. Sehingga, mer­eka yang mengajak anak-anak bisa melakukan aktivitas bermain air.

Saat kami menyusuri tempat ini, ada tiga penari bule di dekat kolam renang dengan diiringi lagu-lagu berbahasa Inggris yang diputar keras. Penari tersebut me­mang khusus untuk menghibur turis yang datang. Serasa seperti sedang di Hawaii. High season sampai Agustus, banyak turis dari berbagai negara yang datang. Kebanyakan turis dari Rusia.

Mendekati pukul 3 petang, kami kembali ke speed boat menuju Pulau Hon Mun untuk scuba diving. Untuk pindah dari satu pulau ke pulau lainnya, butuh waktu sekitar 15 sampai 20 menit. Speedboat tiba-tiba berhenti di dekat kapal kayu bertingkat dua. Kami pindah ke kapal tersebut.

Di sini diberikana instruksi tentang pemakaian alat diving. Tidak usah khawatir kalau tidak bisa berenang. Setiap orang nanti akan ditemani satu orang pendamping. Mereka semua sudah ahlinya.

Dari Pulau Hon Mun, rom­bongan bergerak ke Pulau Con Se Tre. Pulau ini lebih sepi dibanding dua pulau sebelum­nya. Di tepian pantai, terlihat berjajar bangku-bangku santai yang semuanya terbuat dari bambu, cukup nyaman untuk tiduran sejenak melepas letih. Bangku-bangku ini disewakan sekitar 10.000 atau 20.000 Dong. Malam itu kami menginap di Resort Amiana yang lokasinya tepat di pinggir pantai.

Usai makan malam, ada ac­ara Mud Bath and Spa. Mandi lumpur. Sekitar 21 kolam Mud Tub tersedia di ruangan terbuka. Paketnya murah, cukup memba­yar 250.000 Dong.

Tempat yang awalnya kami kira sepi, ternyata ramai luar biasa di malam hari. Sepanjang jalan menuju resort, di sebelah kiri jalan berdiri banyak restoran dan penginapan. Sedangkan di kanan jalan, trotoar yang ber­sih tersedia untuk masyarakat berjalan-jalan memandangi lau­tan. Taman, tempat parkir motor yang rapi. Pemerintah lokal Na Trang benar-benar membuat pantai ini sangat nyaman dan aman dinikmati pengunjung di malam hari. Tiga kata untuk tem­pat ini, bersih, tertib, indah.

Pedagang Terima Uang Rupiah Lho...

Salah satu tempat menarik di Ho Chi Min, tak jauh dari patung Uncle Ho, adalah ge­dung Opera House Saigon, lokasi pertunjukan tarian tra­disional dan tarian klasik seperti balet. Harga tiketnya sampai 500.000 Dong (sekitar Rp 300 ribu) untuk menonton opera selama 1-2 jam.

Meski berdiri sejak 1897, bangunan karya arsitek Prancis, Ferret Eugene, masih tetap megah dan berdiri kokoh. Di sekelilingnya juga berjejer bangunan cantik lainnya ber­gaya Eropa Klasik.

Dari gedung opera ini, bila berjalan lurus membelakangi gedung, kita akan sampai di sungai Saigon. Di sini, ditawarkan wisata air berupa dinner cruise. Pengunjung dapat me­nikmati makanan khas Vietnam sambil menyusuri sungai Saigon sekitar satu jam.

Usai dinner romantis, dari sini wisatawan bisa kembali berjalan kaki menuju pasar Ben Thanh. Tidak perlu kha­watir saat akan menyeberang karena di setiap persimpangan sudah tersedia rambu lalulintas penyeberang pejalan kaki.

Pasar ini hanya buka sampai pukul 6 petang. Namun, ada pasar malamnya, yang menjual keraji­nan tangan khas Vietnam. Ada juga pedagang yang menawarkan kami topi berwarna hijau dengan lambang satu bintang merah di tengahnya seharga 100.000 Dong atau sekitar 61.000 untuk empat buah topi.

"Murah, 100.000 dapat empat," katanya dalam ba­hasa Indonesia. Rupanya, masyarakat di sini juga beru­saha mempelajari kata-kata dalam bahasa Indonesia. Ada juga pedagang yang mau men­erima langsung pembayaran dalam bentuk Rupiah.

Penjualnya pun sedikit-sedikit sudah bisa berbahasa Inggris. Namun, untuk menghindari kesalahan pengucapan harga, mereka akan menunjukkan angka di kalkulator, berapa harga yang harus dibayar.

Bila lelah berjalan kaki atau membawa banyak belanjaan, dari sini kita bisa naik Cyclo Riding, kendaraan roda tiga seperti becak di Indonesia. Tapi yang ini hanya bisa untuk dinaikin seorang diri. Tarifnya pun bervariasi, mulai dari 20.000 sampai 30.000 Dong lebih per jam.

Motor Bebek Jadi Tunggangan Favorit

Hari kedua, pagi-pagi seki­tar pukul delapan, kami su­dah bersiap untuk Mekong Tour, yakni wisata menyusuri delta Sungai Mekong. Dengan menggunakan bus, waktu per­jalanan dari Ho Chi Minh City menuju daerah My Tho lebih dari dua jam.

Untuk kendaraan, aturan batas kecepatan di jalan tol, maksimal 60 kilometer per jam. Saat berbincang dengan Nguyen Cuong, si tour guide yang ganteng, dia menjelas­kan masyarakat di sini lebih memilih menggunakan motor ketimbang mobil lantaran tingginya pajak mobil.

"Semuanya mengenda­rai motor bebek. Buat yang memiliki penghasilan bagus, mereka akan membeli mo­tor Vespa. Jadi, bisa dikata­kan, memiliki Vespa menjadi salah satu ukuran tingginya penghasilan seseorang," jelas Nguyen Cuong yang memiliki nama panggilan "Ro".

Sesampainya di My Tho, kami akan menyeberangi sungai Mekong yang memi­liki kedalaman 70 -90 meter. Pakai boat tradisional kami menjelajahi beberapa pulau di sekitar delta Sungai Mekong kurang dari satu jam.

"My Tho Port juga dike­nal dengan Dragon Island. Kenapa? Karena di sini, du­lunya ada helikopter untuk mengangkut ikan-ikan hasil tangkapan nelayan. Untuk mengirim ikan-ikan tersebut ke banyak daerah, butuh wak­tu tiga minggu untuk sekali perjalanan," tuturnya.

Selain Pulau Dragon, ada ju­ga Pulau Unicorn yang terkenal sebagai penghasil madu. Di sini, kita bisa mengunjungi peterna­kan lebah dan mencicipi madu langsung dari sarangnya.

Dalam menyusuri sungai Mekong, kami berkunjung ke kota Ben Tre di Provinsi Bentre untuk mengunjungi industri rumahan pembuat per­men kelapa. Berbagai aneka penganan seperti permen, manisan, keripik, minyak bah­kan alat kosmetik seperti krim wajah dan lip glose dibuat dari bahan dasar kelapa.

Setiap hari ada delapan orang pekerja yang bisa meng­hasilkan 500 pak dodol kelapa. Sang penjual memberikan harga promo, beli lima pak seharga 150.000 Dong sekitar Rp 92 ribu, bonus satu pak.

Di tempat ini, juga dijual minuman herbal untuk me­nambah stamina. Bahan-bahannya terdiri dari ginseng atau jamur. Dan yang mem­buat sedikit menahan nafas adalah, karena di dalam botol minuman herbal tersebut juga dimasukkan ular.

Hon Tre Saingan Wisata Hong Kong & Singapura

Wahana permainan layaknya Disneyland juga da­pat dinikmati di Vietnam. Namanya Vinpearl Land. Terletak di kepulauan Hon Tre, Nha Trang. Untuk menuju ke pulau tersebut, kita akan diajak menyeberang lautan dengan cable cars (kereta kabel).

Selama 10 menit, kita dapat menikmati pemandangan kota Nha Trang melalui cable cars yang berjalan sepanjang 3.320 meter dengan ketinggian 40-60 meter di atas permukaan laut. Cable cars ini mendapat rekor dunia dari Guiness World of Record sebagai kereta kabel terpanjang di atas laut. Setiap jam, cable cars ini telah mem­bawa 1.500 orang menuju Vinpearl Land.

Terdapat 65 unit kabin (kereta) diisi delapan orang untuk masing-masing kabin. Cable cars memang diman­faatkan sebagai salah satu moda transportasi selain men­gandalkan kapal-kapal dari dan menuju pulau-pulau lain disekitar Vinpearl Land.

Salah satu wahana yang da­pat dinikmati, yakni Vinpearl Underwater World berisi aneka ragam satwa laut. Ada juga pertunjukan ikan Putri Duyung, perempuan-perempuan yang menari-nari dengan gemulai di dalam aquarium besar dengan memakai kostum ikan duyung.

Untuk meninggalkan Vinpearl Land, para pengunjung di sini tidak bisa kembali menaiki cable cars, tetapi dengan kapal. Ya, pengggunaan kapal di sini tak hanya sekedar sebagai alat transportasi laut saja. Tetapi benar-benar dioptimalkan se­bagai sarana wisata laut sebagai daya tarik bagi wisatawan. Wajar, bila kini Vietnam men­jadi salah satu "bintang baru" di Asia Tenggara, bersaing dengan Hong Kong dan Singapura. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA