Hal itu terlihat dari hubungan antara Amerika Serikat dan Rusia yang saat ini diliputi dengan kondisi saling curiga dan ketegangan. Begitu pun dengan hubungan antara Eropa dan Rusia menyusul konflik yang terjadi di Ukraina.
Sementara di Asia, SBY mengambil contoh hubungan Tiongkok dan Jepang yang bersitegang terkait dengan tumpang tindih klaim atas kepulauan Senkaku. Hubungan keduanya pun belum sepenuhnya normal.
"Sejarah telah berulang kali membuktikan, bahwa apa yang terjadi di antara negara-negara besar akan berdampak pada kesejahteraan negara dan stabilitas regional," kata SBY dalam sebuah forum di Singapura pagi tadi (Sabtu, 11/4).
Karena itulah SBY menyerukan agar pemain kunci global menjauhkan diri dari paradigma zero-sum abad ke-19 dan 20 yang tidak sehat di mana pergeseran kekuasaan selalui disertai dengan konflik baru dan bahkan perang.
"Saya akan menyerukan agenda ini sebagai pengantar dalam kerjasama geopoliti, di mana kekuatan besar, menengah dan kecil berinteraksi atas dasar kesamaan mereka ketimbang perbedaan, dengan pola pikir ke depan, meninggalkan zero-sum game dan mendukung pendekatan win-win," jelasnya seperti dimuat
Channel News Asia.
SBY menyerukan agar para pemain global bersaing dalam membangun perdamaian, kemajuan ekonomi, dan kesejahteraan umum.
"Ini berarti kami menyambut mereka bukan untuk menolak satu sama lain, melainkan untuk bersaing di wilayah dengan cara yang positif untuk memperluas soft power, melakukan perdagangan, investasi, pertukaran pendidikan, transfer wisatwan serta teknologi," tandasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: