Menurut laporan PBB, jumlah spesifik korban tewas adalah 957 orang. 119 di antaranya adalah wanita. Mereka menjadi korban akibat konflik kekerasan yang terus berlanjut antara kelompok pemberontak dan pemerintah.
Laporan itu sekaligus menunjukkan adanya pelanggaran dan pengerusakan hukum serta kesepakatan gencatan senjata di wilayah yang diduduki pemberontak yakni di di Donetsk dan Luhansk.
Perdana Menteri Ukraina Arseny Yatseniuk menuding, banyaknya korban tewas di tengah gencatan senjata itu terjadi karena Rusia masih terus mendukung kelompok pemberontak di Ukraina timur.
"(Rusia) sengaja memprovokasi perang besar-besaran," kata Yatseniuk pada Kamis (20/11).
Sementara itu Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah pertemuan di Moscow telah membantah segala tudingan negatif itu.
"Kita harus melakukan segala sesuatu yang diperlukan sehingga hal serupa tidak terjadi di Rusia," kata Putin dikutip
BBC.
Perlu diketahui, konflik di Ukraina timur pecah pada April lalu ketika pemerintah Kiev melancarkan operasi untuk merebut kembali daerah-daerah yang didudki oleh kelompok pemberontak.
Berdasarkan laporan PBB, sejak saat itu, hampir 900 ribu warga lokal terpaksa mengungsikan diri, 400 ribu di antaranya melarikan diri ke Rusia.
Sejak April, PBB mencatat setidaknya 4.317 orang telah tewas akibat konflik.
[mel]