Pasalnya, bila lebih dari empat juta warga Skotlandia yang memiliki hak suara memilih untuk memerdekakan diri dari Britania Raya, maka hal itu akan membuat nasib sejumlah perusahaan Tiongkok di Britania raya, termasuk Skotlandia menjadi tidak pasti. Hal itu bisa berimbas pada pengurangan atau penarikan investiasi Tiongkok ke Inggris dalam jangka pendek.
Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang sebelumnya sempat menyebut bahwa ia berharap Skotlandia akan tetap menjadi wilayah yang kuat, sejahtera, dan bersatu dengan Britania Raya.
Pernyataan serupa juga pernah dilontarkan oleh Wakil Menteri Keuangan Tiongkok Zhu Guangyao. Ia menyebut bahwa investor membutuhkan stabilitas dalam benanamkan modalnya.
Menurut perusahaan penasehat lintas batas Capital, investor asing sendiri telah menarik sebagian dananya di Inggris menyusul kekhawatiran bahwa referendum yang digelar hari ini akan menyisakan kemerdekaan Skotlandia. Penarikan itu merupakan yang terbesar di Inggris sejak krisis keuangan tahun 2008 lalu.
Menurut keterangan pemerintah, dikutip
Asia One, Inggris merupakan tujuan paling populer bagi investasi Tiongkok yang telah menyediakan lebih dari enam ribu pekerjaan baru di negara itu.
"Ketidakpastian atas kemerdekaan Skotlandia dapat menyebabkan perusahaan Tiongkok di Inggris menahan investasi lebih lanjut untuk menunggu hasilnya," kata seorang profesor hukum bisnis internasional dan Eropa dari Hull University Business School, Christopher Bovis.
Bila hasil referendum memutuskan kemerdekaan Skotlandia, jelasnya, maka bisa jadi ada pengurangan atau penarikan investasi Tiongkok. Pasalnya Skotlandia yang baru merdeka akan memiliki hukum dan peraturan baru baik dalam ekonomi atau perpajakan. Selain itu juga akan ada penyesuaian mata uang baru, dan keonggotaan di Uni Eropa yang belum pasti. Semua hal itu mempengaruhi keputusan bisnis.
"Sangat mungkin bisnis Tiongkok akan dipertimbangkan kembali soal investasi di Skotlandia hingga ada kepastian yang bisa mereka dapatkan," tandasnya.
[mel]
BERITA TERKAIT: