Dalam sebuah pernyataan dari Kementerian Dalam negeri Maroko pada Jumat (22/8) disebut bahwa dua orang tersebut telah melakukan komunikasi dengan ekstrimis asing agar dapat menjalani pelatihan di kamp ISIS sebelum akhirnya kembali ke Maroko dan melancarkan serangan.
Associated Press mengabarkan, penangkapan itu merupakan bagian dari peningkatan peringatan atas serangan teroris yang dilancarkan oleh pemerintah Maroko sejak 16 Juli lalu. Sejak saat itu, Maroko meningkatkan kewaspadaan atas warga negaranya yang akan bertempur di luar negeri.
Pasalnya Maroko khawatir, keikutsertaan warga negaranya dalam pertempuran di luar negeri dapat menjadi batu loncatan atas serangan terhadap Maroko atau negara Afrika Utara lainnya.
Maroko mencatat setidaknya ada 1.212 warga negaranya yang bergabung dengan kelompok ekstrimis Irak dan Suriah.
[mel]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: