China Kecam Surat Pilot Kamikaze Jepang

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Senin, 10 Februari 2014, 19:43 WIB
China Kecam Surat Pilot Kamikaze Jepang
foto:net
RMOL. China mengecam rencana salah satu kota di Jepang, Minami Kyushu yang meminta organisasi warisan dunia PBB UNESCO untuk mendaftarkan sebuah surat dari seorang pilot Jepang yang melakukan kamikaze atau serangan bunuh diri pada Perang Dunia II lalu sebagai dokumen bersejarah.

Kota tersebut meminta surat sang pilot disejajarkan dengan dokumen bersejarah lainnya seperti catatan harian Anne Frank dan Magna Carta.

Seperti dikutip Reuters hari ini (Senin, 10/2), kota yang terletak di sebelah selatan Jepang pekan lalu meminta UNESCO untuk mendaftarkan surat wasiat dan perpisahan yang ditinggalkan seorang pilot sebelum melakukan serangan bunuh diri terhadap kapal-kapal sekutu pada Perang Dunia II. Tujuannya adalah agar masyarakat dunia meyoroti pentingnya perdamaian dunia.

Minami Kyushu merupakan kota di mana terdapat sebuah lapangan udara besar bersejarah. Pada akhir Perang Dunia II, ratusan pilot berkumpul di lapangan udara tersebut untuk memulai misi bunuh dirinya.

Menanggapi hal tersebut, Kementerian Luar Negeri China menyebut bahwa pilot yang telah melakukan kamikaze tidak layak mendapatkan pengakuan dunia semacam itu.

"Rancangan di balik aplikasi yang disebut untuk pilot kamikaze sangat jelas, yaitu untuk mencoba dan mempercantik sejarah invasi militeris Jepang," kata jurubicara kementeri luar negeri China, Hua Chunying.

"Niat ini secara diametral bertentangan dengan tujuan UNESCO menjaga perdamaian dunia, dan harus dikutuk dan ditentang oleh masyarakat Internasional," lanjut Hua.

Hubungan China dan Jepang telah lama mengalami ketegangan. Salah satu sumber ketegangan dalam hubungan kedua negara adalah sengketa di Laut China Timur. Kapal dari kedua negara seringa berselisih di sekitar wilayah perairan yang disengketakan tersebut.

Ketegangan China dan Jepang semakin meningkat akhir tahun lalu setelah China secara sepihak mendeklarasikan zona identifikasi pertahanan udara di atas Laut China Timur yang masih disengketakan. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA