Kota tersebut meminta surat sang pilot disejajarkan dengan dokumen bersejarah lainnya seperti catatan harian Anne Frank dan Magna Carta.
Seperti dikutip
Reuters hari ini (Senin, 10/2), kota yang terletak di sebelah selatan Jepang pekan lalu meminta UNESCO untuk mendaftarkan surat wasiat dan perpisahan yang ditinggalkan seorang pilot sebelum melakukan serangan bunuh diri terhadap kapal-kapal sekutu pada Perang Dunia II. Tujuannya adalah agar masyarakat dunia meyoroti pentingnya perdamaian dunia.
Minami Kyushu merupakan kota di mana terdapat sebuah lapangan udara besar bersejarah. Pada akhir Perang Dunia II, ratusan pilot berkumpul di lapangan udara tersebut untuk memulai misi bunuh dirinya.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Luar Negeri China menyebut bahwa pilot yang telah melakukan kamikaze tidak layak mendapatkan pengakuan dunia semacam itu.
"Rancangan di balik aplikasi yang disebut untuk pilot kamikaze sangat jelas, yaitu untuk mencoba dan mempercantik sejarah invasi militeris Jepang," kata jurubicara kementeri luar negeri China, Hua Chunying.
"Niat ini secara diametral bertentangan dengan tujuan UNESCO menjaga perdamaian dunia, dan harus dikutuk dan ditentang oleh masyarakat Internasional," lanjut Hua.
Hubungan China dan Jepang telah lama mengalami ketegangan. Salah satu sumber ketegangan dalam hubungan kedua negara adalah sengketa di Laut China Timur. Kapal dari kedua negara seringa berselisih di sekitar wilayah perairan yang disengketakan tersebut.
Ketegangan China dan Jepang semakin meningkat akhir tahun lalu setelah China secara sepihak mendeklarasikan zona identifikasi pertahanan udara di atas Laut China Timur yang masih disengketakan.
[rus]
BERITA TERKAIT: