Meski sudah pensiunan, para bekas pembuat keputusan atau decision maker Asia tetap ingin berperan penting di dunia internasional. Pilihannya jatuh menjadi konsultan perdamaian.
Para eks penguasa ini bergaÂbung dalam Asian Peace and Reconciliation Council (APRC) atau Dewan PerÂdaÂmaian dan Rekonsisliasi Asia. APRC, lemÂbaga non pemerintah yang meÂngusahakan terjadinya perdaÂmaian dan reÂkonsiliasi. APRC pertama kali diluncurkan pada pertemuan di Thailand, SepÂtember 2012.
Lembaga ini diÂbentuk bekas pejabat yang ingin aktif mewuÂjudkan perdamaian dan rekonÂsiliasi. Saat ini, APRC diketuai bekas Wakil Perdana Menteri (PM) yang juga Menlu Thailand SuraÂkiart Sathirathai.
Kehadiran lembaga yang diÂdiÂrikan oleh para bekas pemimpin di Asia itu, melahirkan harapan maÂsyarakat di kawasan (Asia) akan terjadinya perdamaian.
Kemarin, Gedung Sekretariat ASEAN di Jakarta jadi tempat perÂtemuan pertama APRC deÂngan para diplomat dan perÂwaÂkilan luar negeri yang ada di InÂdoÂnesia, serta utusan tetap di ASEAN.
Dalam sambutannya, anggoÂta APRC yang juga bekas MenÂlu Hasan Wirajuda menyaÂtaÂkan, menghargai kesukÂsesan IndoneÂsia dalam melakÂsanakan deÂmokÂÂrasi.
“Kami meÂngÂapresiasi InÂdoÂÂneÂsia dalam melaksanakan deÂmokÂrasi yang telah dimulai, terÂutama sejak reformasi,†katanya.
Hasan menilai, pembentukan lembaga ini merupakan sebuah reÂaksi atas berbagai konflik yang tengah terjadi akhir-akhir ini, khuÂsusnya di kawasan Asia.
“Kami menginginkan agar seÂtiap negara (yang sedang berÂkonÂflik) mau meÂnerima pendeÂkatan yang dilaÂkuÂkan pihak keÂtiga,†imbau Hasan.
Anggota APRC asal Indonesia lain, bekas Wapres Jusuf Kalla, menyampaikan pandaÂnganÂnya terkait konflik di suatu negara.
“Tidak ada negara yang beÂnar-benar terbebas dari konflik. MaÂka dari itu, konflik membuÂtuhÂkan dialog. Kami adalah konÂsultan perdamaian,†kata Kalla menjeÂlaskan tujuan lemÂbaga yang didiÂrikan para beÂkas peÂmimpin itu.
Dia menekankan dialog sebaÂgai bentuk upaya penyelesaian konflik. “Dari dialog akan dihaÂsilkan kepercayaan. Dari keperÂcayaan akan lahir pengetahuan. Dari pengetahuan kita memÂbuÂtuhkan jaringan untuk melakÂsanakannya,†kata JK.
“Jadi konsultan perdamaian itu penting, sama seperti konÂsultan bisnis,†imbuhnya.
Bekas PM Pakistan ShauÂkat Aziz turut menyatakan penÂdaÂpatnya. “Perdamaian tidak akan komÂplet jika tidak diiringi deÂngan rekonsiliasi,†kata Aziz.
Anggota APRC asal FinÂlanÂdia, Juha Christensen, meÂnyaÂtakan, kehadiran APRC pada daÂÂsarnya bukan untuk meÂlakuÂkan interÂvensi terkait dengan konflik yang sedang terjadi di suatu wilayah.
“Kami berada di sini untuk meÂlayani dan melengkapi upaya perÂdamaian,†tukas ChrisÂtensen yang juga Ketua Peace ArchiÂtecture and Conflict TranÂformaÂtion Alliance (PACTA).
Pertemuan itu mengangkat kasus sengketa di Laut China Selatan. Bekas Wakil PM SingaÂpura Shunmugam Jayakumar mengutarakan penÂdapat pribaÂdinya mengenai sengÂketa Laut China Selatan. Dia tetap menyaÂrankan kedua belah pihak agar tidak terus berprasangka buruk.
“Apa yang sangat dibutuhkan dalam sengketa itu adalah upaya damai untuk menyelesaikan maÂsalah, mengurangi ketegangÂan dan meninÂdakÂlanÂjutinya berÂdaÂsarÂkan Undang Undang Laut InÂternasioal atau UNCLOS,†teÂrang Jayakumar.
“Harus ada langkah diploÂmaÂtik. Jangan ada prasangka buruk meÂngenai kedaulatan,†katanya.
Jayakumar menyebut sikap FiÂlipina yang ingin membawa sengÂÂketa ilaut China Selatan ke tingÂkat interÂnasional, sebagai sikap yang unilateral (seÂpihak). Filipina disarankan meminta penÂdapat China terlebih dulu seÂbeÂlum memÂbawa sengketa itu ke peÂngadilan internasional.
“Kita belum tahu respons dari China mengenai hal ini. Cara yang paling efektif dalam meÂngatasi sengketa ini tetap dengan mengurangi ketegangan,†pungÂkas Jayakumar.
Sebagai anggota APRC, JayaÂkumar mengatakan bahÂwa kuÂrang baik untuk berkoÂmentar meÂngenai sengketa terseÂbut, terÂutama yang berkaitan deÂngan resolusi konflik. Pihak APRC haÂnya akan sepakat bekerÂja bila kedua belah pihak yang bersengÂketa menyetujui kehaÂdiÂrannya sebagai mediator konflik.
Sebagai salah satu organisasi yang mengkampanyekan perÂdaÂmaian, APRC pun siap memÂbanÂÂtu negara-negara lain di beÂlahan dunia ini yang tengah diÂlanda konflik antar negara mauÂpun konflik domestik.
Organisasi itu beranggotakan para pakar-pakar yang tak lain mantan negarawan ternama di dunia. Mereka juga dapat memÂbuat rekomendasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan untuk resolusi konflik. [Harian Rakyat Merdeka]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: