Para aktivis yang tinggal di pengasingan ini membuat sebuah pertemuan yang mereka sebut sebagai Kongres Keselamatan Nasional di Istanbul Turki pada hari Sabtu (16/7). Kongres yang di hadiri 4 ribu anggota oposisi dari Islam konservatif dan liberal ini bertujuan untuk mengakhiri 41 tahun pemerintahan keluarga Assad di Suriah.
"Kami akan membangun Dewan kami di Istanbul dengan beberapa cabang untuk membantu gerakan rakyat di Suriah dengan (mengumpulkan) uang. Dan dengan bertemu orang-orang yang bertanggung jawab di Turki untuk memberikan tekanan kepada rezim agar berhenti menyerang orang-orang yang berdemonstrasi," ujar Haytham Al Maleh, seorang pemimpin oposisi senior yang hadir pada kongres tersebut, seperti dikutip dari
Aljazeera.com, Minggu (17/7).
Namun, kongres yang juga bertujuan untuk mempersatukan kubu oposisi berakhir dengan perpecahan setelah para aktivis etnis Kurdi menarik diri. Para aktivis etnis Kurdi ini menuding para peserta lain dalam konferensi tersebut meminggirkan mereka dan mengesampingkan masalah Kurdi dalam kongres. Padahal, Warga Kurdi Suriah sudah lama mengeluhkan perlakuan yang mereka pandang diskriminasi bertahun-tahun terhadap warga komunitas mereka.
Kongres ini semula juga berniat membentuk pemerintah bayangan, namun gagasan tersebut diurungkan di tengah kekhawatiran bahwa lembaga semacam itu akan memonopoli gerakan penentangan terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad.
[wid]
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: