Demikian ungkap pakar politik dan hubungan inaternasional dari Universitas Parahyangan, Andreas Hugo Pareira dalam bincang-bincang dengan
Rakyat Merdeka Online pada hari Minggu malam (20/3) .
“Oleh karena itu, intervensi negara-negara AS, Prancis, Inggris atas nama kemanusiaan hanya merupakan alasan sampingan,†ujar pria yang juga menjabat Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Hankam ini.
Alasan utama, lanjut Pareira, tetap kontrol atas ladang-ladang minyak dan jaminan supply ke negara-negara tersebut tidak terancam.
Dari pihak Kaddafi, tampaknya
point of no return. Semangat revolusioner dan daya tempur Kaddafi yang berlatar belakang seorang Badui gurun pasir masih tetap tinggi. Dan Kaddafi menyadari betul, bahwa intervensi AS dan beberapa negara Eropa tidak lebih dari upaya mengamankan kepentingannya.
Namun bagi AS dan sekutunya, faktor pasca Kaddafi juga masih menjadi tanda tanya, karena di luar Kaddafi tidak ada pemimpin yang mempunyai kapasitas leadership yang mampu mengontrol Libya. Sementara terjadi perpecahan di tubuh militer. Bedanya Libya dan Mesir, di Libya militernya dalam kubu oposisi dan kubu Kaddafi. Sehingga sulit diandalkan untuk menjadi kepanjangan tangan AS dan sekutunya.
“Sementara belum ada pemimpin alternatif di luar Kaddafi. Sehingga kemungkinannya, pertama, AS dan sekutunya akan kembali berkompromi dengan Kaddafi. Kedua, terjadi perang saudara dan PBB turun tangan sehingga muncul pemimpin boneka seperti Afghanistan. Dan yang ketiga, terjadi perluasan wilayah perang dan meningkatnya anti AS dan sekutunya di Timur Tengah,†ujar Andreas Pareira terkait prediksi masa depan Libya.
[arp]
BERITA TERKAIT: