Tak kenal lelah, demonstran anti pemerintah Mesir memasuki hari ketujuh unjuk rasa besar-besaran. Imbauan pemerintah, lewat Kementerian Dalam Negeri sama seÂkali diacuhkan. HaÂdangan tank dan artileri berat lainnya dianggap angin lalu. Demonstran pilih berÂdarah-darah ketimbang mengalah.
Karena itu, situasi nasional MeÂsir kacau balau dan berbagai neÂgara di belahan dunia termaÂsuk Indonesia, mulai Minggu (30/1), aktif memÂperiÂngatkan serta meÂngevakuasi warÂganya untuk lari keluar Mesir.
Menteri Luar Negeri Marty NaÂtalegawa mengatakan, PeÂmeÂrintah Indonesia segera mengÂaktifkan rencana evakuasi terÂhaÂdap sekitar 6.000 warga negara Indonesia yang berada di Kairo. Namun, NaÂtalegawa belum dapat meÂrinci bagaimana skenario evaÂkuasi akan dilaksanakan.
“Sekarang kami menghadap Presiden, meminta instruksi beÂliau mengenai langkah-langÂkah yang akan kita lakukan sesuai dengan skenario, planning, renÂcana yang selama ini kita susun,†kata NaÂtalegawa sebelum mengiÂkuti rapat kabinet terbatas biÂdang poÂlitik, hukum, dan keamanan di Kantor Presiden, kemarin.
Dia menambahkan, saat ini Kedutaan Besar Republik IndoÂneÂsia (KBRI) di Kairo terus menÂjaga komunikasi dengan WNI. Selain menginformasikan nomor telepon yang dapat dihuÂbungi, KBRI juga membuka 20 posko dan tiga tempat penamÂpungan yang tersebar di Kairo. “KBRI juÂga memÂberikan pasokan semÂbaÂko bagi WNI,†ujar NaÂtalegawa.
Langkah yang sama juga diÂambil AS. “Warga AS di Mesir haÂrus mempertimbangkan untuk segera meninggalkan (negara itu),†kata Asisten Menteri Luar Negeri AS Janice Jacobs.
Sedangkan Turki, India, YunaÂni, Kanada dan Arab Saudi berenÂcana atau sudah mengirimkan pesawat untuk memulangkan warga mereka. Inggris, Prancis, China, Australia, Argentina dan negara-negara Skandinavia memÂÂperingatkan warganya unÂtuk tiÂdak melakukan perjalaÂnan ke MeÂsir, tetapi belum punya renÂÂcana untuk melakukan evaÂkuasi dalam skala penuh.
Irak mengatakan akan berÂgantung pada penerbangan-peÂnerÂbangan khusus dalam mengÂevakuasi warganya dari Mesir. Sementara Turki mengatakan, pihaknya mengirim lima pesawat untuk mengevakuasi sekitar 750 warganya yang terdaftar. Arab Saudi mengatakan akan mengatur 33 penerbangan untuk membawa pulang warganya. India mengirim pesawat penumpang ke Kairo untuk mengevakuasi warÂganya.
Pemerintah Azerbaijan mengaÂtakan, salah seorang staf keduÂtaannya tewas akibat luka tembak dalam kerusuhan. PeÂmerintah Kanada, lewat Menlu Lawrence Cannon, mereÂkoÂmenÂdasikan keÂpada warganya agar meÂningÂgalkan negara itu.
Inggris meÂnyaÂrankan wargaÂnya untuk meÂningÂgalkan kota-koÂta yang bergolak di Mesir. KanÂtor Departemen Luar Negeri IngÂgris mengatakan, sekitar 30.000 warga Inggris berÂada di Mesir.
Prancis juga memperingatkan warganya agar tidak melakukan perjalanan yang tidak penting ke Mesir. Tapi Paris belum memÂÂpertimbangkan untuk meÂngÂevaÂkuasi sekitar 10.000 warÂganya di negeri itu. “Kami meÂmiliki kaÂpasitas untuk bereaksi jika perlu,†kata Jubir KemenÂterian Luar Negeri Prancis Bernard Valero.
Sementara Australia meÂnaikÂkan status travel warning menÂjadi “jangan melakukan perjalanan†ke Mesir. Perdana Menteri Julia Gillard mengatakan, ada 870 warÂga Australia yang terdaftar di Mesir, tapi angka yang sebeÂnarÂnya mungkin berjumlah ribuan.
Kedutaan Besar China di Kairo dalam situs web-nya telah mengeÂluarkan peringatan ‘merah†keÂpada warga China untuk tidak meÂlakukan perjalanan ke Mesir. China juga mendesak warganya di Mesir untuk berhati-hati dan tidak keluar rumah kecuali jika diperlukan. [RM]
< SEBELUMNYA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.
BERITA TERKAIT: