Menteri Luar Negeri MaÂlayÂsia Anifah Aman meÂnyamÂpaikan kepriÂhatinan menÂdaÂlam dan keÂkeÂcewaan atas koÂmentar pejabat senior SingaÂpura yang diboÂcorkan WikiÂleaks kepada media Australia
Fairfax.
Sebelum pengiriman nota proÂtes ini, Anifah mengatakan, MaÂlaysia tidak mengharapkan perÂmintaan maaf dari SingaÂpura, tapi hanya ingin memÂbe–rikan catatan kekecewaan peÂmerintah atas tindakan seÂjumÂlah pejabat SingaÂpura. MeÂrespons tindakan AniÂfah, MenÂÂteri Luar Negeri SingaÂpura George Yeo mengatakan teÂlah meÂlakukan pembicaraan teÂlepon demi mengklarifikasi keÂÂbijakan Singapura untuk tidak mengomentasi pembocoran ini.
“Atas komplain spesifik yang diÂajukan Malayisia, apa yang dituduhkan Wikileaks atas perÂkataan pejabat SiÂngaÂpura, tidak ada dalam cataÂtan kami. PerÂteÂmuan itu bahÂkan tidak terjadi,†ujar Yeo daÂlam sebuah perÂnyaÂtaan.
PM Malaysia NaÂjib Razak malah meÂnilai tidak penting unÂtuk meresÂpons komentar neÂgatif tersebut. Dia lebih meÂnekankan rakyatnya untuk membuktikan kepada neÂgara tetangganya, melalui presÂtasi dan pembangunan Malaysia.
“Kami bisa membuktikan keÂpada negara tetangga yang kaÂdang kerap melontarkan koÂmenÂtar tidak mengenakkan terÂhadap Malaysia, bahwa negara ini dapat meraih presÂtasi poÂsitif,†ungkap PM Razak.
Kerajaan Thailand juga menÂjadi sasaran Wikileaks. Istri Raja Bhumibol Adulyadej Ratu Sirikit berada di balik kudeta 2006. Ini tertulis dalam memo pada OkÂtober 2008. “PM Thailand saat itu Samak Sundaravej mengklaim Ratu (Sirikit) bertanggung jawab atas kudeta 2006,†laporan WiÂkileaks. Samak adalah PM pada 29 Januari hingga 9 September 2008.
“Samak melihat dirinya seÂbagai orang yang setia kepada Raja, tapi meÂnuding agenda politik Ratu berÂbeda dari suaÂminya,†menurut meÂmo diploÂmatik yang dilansir di situs media Inggris
The Guardian.MeÂmo diplomatik AS lainÂnya pada NoÂvember 2008 mengÂkritik keÂmunÂÂculan Ratu Sirikit di pemaÂkaÂman demonsÂtran Kaos Kuning yang tewas karena bentrokan deÂngan poÂlisi.
[RM]
BERITA TERKAIT: