Kesejahteraan TKI Akan Ubah Citra Indonesia Di Internasional
Laporan: Ruslan Tambak | Jumat, 11 November 2016, 07:57 WIB

. Menghargai jasa para pahlawan tidak saja ditujukan kepada yang telah meninggal. Anak bangsa yang berkontribusi terhadap pembangunan bangsa saat ini juga pahlawan.
Contohnya, tenaga kerja Indonesia (TKI) yang biasa disebut pahlawan devisa juga merupakan anak bangsa yang tidak boleh diabaikan pemerintah. Kontribusi TKI terhadap APBN adalah yang terbesar selain pajak dari sumber non-migas sektor jasa.
"Mereka juga pahlawan, pahlawan hari ini, pahlawan dalam arti penyumbang devisa terbesar. Mereka pahlawan devisa," Anggota Komisi IX DPR RI, Ahmad Zainuddin, Jumat (11/11).
Tahun 2015 TKI menyumbang devisa mencapai Rp 144 triliun. Besarnya kontribusi devisa dari TKI, lanjut Zainuddin, dapat memenuhi kebutuhan anggaran yang seharusnya banyak didapat dari sektor lain seperti pajak. Devisa dari TKI dalam APBN, menurut Zainuddin, menjadi kekhasan postur APBN Indonesia yang mungkin tidak dimiliki negara lain.
"Bangsa ini juga harus berterima kasih kepada TKI dengan segala plus minusnya mereka. Sudah selayaknya mereka menerima penghargaan sepantasnya dari pemerintah, jangan diabaikan," imbuh anggota tim pengawas TKI DPR RI ini.
Namun sayangnya, menurut politisi Zainuddin, TKI yang bekerja di luar negeri masih kerap mendapatkan perlakuan kurang manusiawi dari sejumlah pihak, seperti perusahaan penyalur jasa, aparat, hingga majikan. Bahkan angka TKI yang terjerat kasus hukum di negara tujuan masih cukup tinggi, sementara kemampuan perlindungan hukum dari pemerintah sangat terbatas. Jaminan asuransi terhadap mereka juga masih minim.
Menurutnya, pemerintah harus lebih serius memperhatikan kesejahteraan TKI, salah satunya dengan meningkatkan kualitas dan kapasitas TKI serta memperketat pengawasan penyaluran TKI sehingga terjamin hak-haknya dan tidak terjadi lagi kasus TKI ilegal.
"Peningkatan kapasitas TKI pada akhirnya akan mengubah citra Indonesia di dunia internasional. Pahlawan devisa harus dihargai hak mereka sebagai sebutannya sebagai pahlawan," pungkas Zainuddin.
[rus]