WAWANCARA
Tjatur Sapto Edy: Kapolri Perlu Mengecek Upeti di Tempat Lain
| Rabu, 02 November 2011, 04:33 WIB
RMOL.Komisi III DPR sudah mengagendakan memanggil Kapolri Timur Pradopo terkait upeti PT Freeport kepada kepolisian.
“Kami reses sampai 14 NoÂvember 2011. Selesai reses itulah kami mengagendakan pertemuan tersebut. Ini berarti pertengahan November. Kami akan meminta pertanggungjawaban Kapolri soal dana tersebut,’’ kata Wakil Ketua Komisi III DPR Tjatur Sapto Edy kepada
Rakyat MerÂdeka di Jakarta, kemarin.
Mengenai tindakan apa yang diberikan kepada polisi, politisi PAN itu mengatakan, itu terganÂtung hasil audit Badan PemerikÂsa Keuangan (BPK) dan meÂkanisme internal Polri.
Menurut Tjatur, dalam perteÂmuan itu pihaknya akan meminta Kapolri melakukan pengecekan terhadap kemungkinan ada upeti kepada polisi di tempat lain.
“Ini penting untuk menjaga independensi alat negara. Alat negara itu harus mono loyalitas, hanya kepada negara,†tegasnya.
Berikut kutipan selengkapnya:Apa polisi bisa mendapat sankÂsi tegas?Begini ya. Saya setuju bahwa uang keamanan yang disetorkan Freeport untuk Polri harus diperÂsoalkan. Namun kita juga harus mengapresiasi kejujuran Kapolri Timur Pradopo. Jangan hancurÂkan moral prajurit Polri di laÂpaÂngan dengan pengalihan isu tentang setoran uang keamanan tersebut.
Prioritas untuk Papua saat ini adaÂlah pemulihan keamanan, memÂÂbangun suasana kundusif, serta pengkajian kembali kerja sama Indonesia dengan PT Freeport.
Bagaimana kalau PT FreeÂport tetap mau membantu apaÂrat negara? Kalau Freeport berniat untuk membantu aparat negara, seperti Polri, ya berikan saja hibah keÂpada negara, bukan kepada Polri. KeÂmudian pendapatan negara yang berasal adari hibah PT FreeÂport itu dialokasikan ke PolÂri. MeÂkaÂnisÂmenya begitu, tidak bisa main langsung diberikan ke polisi.
Apakah pertemuan itu haÂnya membahas upeti PT FreeÂport terhadap Polri?Freeport mungkin menjadi salah satu topik yang berkemÂbang. Namun, kami tidak hanya membahas persoalan itu. Kita jangan mengaburkan persoalan ini pada isu tentang setoran uang keamanan dan memojokkan orang jujur seperti Kapolri. Ada hal-hal lain yang lebih besar yang harus kita selesaikan.
Maksudnya?Saat ini ada sejumlah persoalan besar yang sedang terjadi di PaÂpua. Di antaranya, masalah keÂamanan, gerakan sparatis, dan renegoisasi kontrak antar IndoÂnesia dan Freeport. Itulah yang harus jadi prioritas kita.
Polemik yang terjadi di PaÂpua berkaitan dengan renegoiÂsasi Freeport?Dalam renegosiasi, Freeport memang termasuk perusahaan yang cukup bandel. Tapi saya tidak menuding ke arah sana, beÂlum ada buktinya. Makanya, kaÂmi meminta pemerintah berÂtindak tegas dalam renegaosasi tersebut.
Sejak 1967, kerja sama IndoÂneÂÂsia dengan perusahaan itu tiÂdak menghasilkan sesuatu yang besar bagi bangsa kita. SemenÂtara PT Freeport yang awalnya hanya perusahaan biasa-biasa saja, seÂkarang menjadi perusaÂhaan emas terbesar di dunia.
Ini berarti persoalannya seÂmaÂkin banyak dong?Ya. Masalahnya cukup komÂpleks. Ada persoalan tenaga kerÂja, lingkungan hidup, keÂuangÂan, huÂkum dan sebagainya. Saya sih seÂtuju saja kalau perÂsoalan ini diÂbawa ke panitia khusus (pansus).
Mudah-mudahan melalui panÂsus, sejumlah persoalan di PaÂpua bisa diselesaikan dan IndoÂnesia bisa memperoleh keuntuÂngan yang lebih besar dari PT Freeport. Masak kita hanya memÂperoleh royalti sebesar 1 persen.
Masalah upeti PT Freeport keÂÂpada Polri tetap ditindakÂlanÂÂÂjuti?Ya tetap ditindaklanjuti. Kalau ada potensi pelanggaran perunÂdang-undangan, pasukan yang ada di sana harus segera ditarik. Negara bertanggung jawab peÂnuh terhadap alat negara yang diÂmiÂlikinya.
[rm]