Otokritik: DPR Perlu Perkuat Ruang Komunikasi Publik
Laporan: Dede Zaki Mubarok | Senin, 04 Juli 2011, 23:59 WIB
RMOL. DPR RI menerima kunjungan 46 mahasiswa asing yang tergabung dalam Indonesia Students Assosiation for International Studies (ISAFIS). Hal ini merupakan kegiatan untuk pertama kalinya yang dilakukan DPR RI. Humas DPR diharapkan semakin pro aktif mengundang organisasi Internasional sehingga mereka dapat memperoleh persepsi yang berbeda mengenai keparlemenan.
"Teman-teman dari ISAFIS merupakan kaum muda potensial yang sesungguhnya mereka sangat antusias ingin mengetahui tentang Indonesia, mulai dari sistem ketatanegaraannya maupun tentang DPR," jelas anggota DPR Theresia Pardede dari Partai Demokrat sesuai menjadi pembicara, di Gedung Operation Room (Senin, 4/7).
Menurut Tere, biasa ia dipanggil, ke depan Biro Humas harus lebih pro aktif lagi mengundang organisasi inernasional sehingga para pelajar Indonesia, maupun asing dapat memperoleh perspektif yang berbeda dengan media massa mengenai keparlemenan.
"Selama ini, kita melihat hanya refleksi dari media massa dan banyak tidak paham mengenai DPR," jelasnya.
Dia mengatakan, kegiatan ini harus diperbanyak dan dipertajam sehingga persepsi masyarakat umum bisa lebih positif terhadap DPR. "Desain program itu ada di domain kehumasan, sebagai anggota BURT secara pribadi memiliki tugas mengawasi program yang ada," kata Tere.
Dirinya mengharapkan kegiatan ini dapat berdampak positif bagi DPR. Selain itu, tugas ini juga bagian dari bidang Komisi X DPR yang mengurusi permasalahan kepemudaan.
"Ini juga merupakan bagian dari komunikasi politik yang dilakukan dewan selama ini," ujarnya.
Hambatan saat ini, lanjut Tere, DPR belum memiliki sistem yang jelas dan akuntabel, karenanya perlu disusun sistemnya, sehingga dapat terlihat kinerja anggota DPR secara kualitatif. "Alat ukur masih Prolegnas dan itu bersifat kuantitatif, belum ada parameter spesifik," tambahnya.
Selain itu, ruang komunikasi publik penuh dengan agenda
setting sehingga benak di masyarakat tentang DPR RI semakin terpuruk. Perlu disusun strategis untuk memperbaiki kendala-kendala tersebut. Pertama, terang Tere, dengan penguatan lembaga legislatif, baik dari sisi SDM, infrastruktur maupun dari sisi manajemen organisasi DPR RI.
"Kita kembali kepada semangat reformasi yang dikuatkan di lembaga legislasi. Di sini kendala yang kita temukan jawabannya, karena kita menemukan pola baru suara terbanyak, yang sedikit banyak memberikan dampak negatif salah satunya menutup yang kompeten di bidangnya," tandasnya.
[dem]