Dalam ajang IdeaFest 2026, inisiatif ini dibawa lebih dekat kepada publik muda untuk menunjukkan bahwa langkah sederhana dari dapur bisa berkontribusi pada ekosistem rendah karbon.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, memastikan bahwa bahan bakar aviasi ramah lingkungan ini telah melalui standar pengujian yang sangat panjang sebelum akhirnya mengudara.
“Minyak itu kita buat untuk bahan bakar pesawat udara. Namun jangan khawatir, ini aman karena risetnya sudah diinisiasi sejak 2015, diteliti secara ketat dan diuji coba dari 2021 hingga 2025,” ujar Arya, dalam pernyataannya pada Jumat 11 September 2026.
Sebagai pembuktian operasional, bahan bakar dari Used Cooking Oil (UCO) tersebut bahkan sudah diaplikasikan langsung pada rute komersial Jakarta?"Bali yang dioperasikan oleh Pelita Air Service.
Tingginya rasa ingin tahu pengunjung muda di lokasi acara turut disoroti oleh SAF Project Commercial PT Pertamina Patra Niaga, Ibrahim Akbar. Menurutnya, isu pengolahan limbah minyak ini menjadi daya tarik utama yang membuka ruang komunikasi efektif mengenai transisi energi kepada generasi penerus.
“Hari ini saya berkesempatan mempresentasikan program Pertamina yang mengubah minyak jelantah menjadi bahan bakar terbarukan. Saya melihat antusiasme yang sangat besar. Dari semua yang bertanya, semuanya tentang UCO,” kata Ibrahim.
Di balik antusiasme tersebut, tantangan besar masih membentang mulai dari aspek keekonomian, regulasi, hingga konsistensi rantai pasok. Oleh sebab itu, pelibatan publik secara masif melalui program pengumpulan minyak jelantah menjadi kunci penentu agar transisi energi ini dapat berjalan berkelanjutan.
“Harapan konkretnya, semakin banyak yang mengetahui program beli minyak jelantah yang sudah ada saat ini dan semakin besar jumlah atau volume minyak jelantah yang bisa kita kumpulkan,” pungkas Ibrahim.
BERITA TERKAIT: