Harga Emas Melesat Imbas Pelemahan Dolar AS dan Isu Geopolitik

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 24 Agustus 2026, 08:46 WIB
Harga Emas Melesat Imbas Pelemahan Dolar AS dan Isu Geopolitik
Ilustrasi (RMOL via Gemini AI)
Kecil Besar
rmol news logo Pergerakan harga logam mulia dunia serempak mencatatkan tren positif pada perdagangan Senin 24 Agustus 2026.  
HUT RMOL news

Harga emas spot naik 0,7 persen menjadi 4.636,34 Dolar AS per ons, menyentuh level tertingginya sejak 15 Mei, sebagaimana dilaporkan Reuters. Sementara emas berjangka Amerika Serikat (AS) untuk kontrak pengiriman Desember menguat 0,3 persen ke posisi 4.694,80 Dolar AS per ons. 

Sentimen positif ini turut mengerek harga logam lainnya, terlihat dari harga perak spot yang melompat 0,8 persen menjadi 69,51 Dolar AS per ons, disusul oleh platinum yang menguat 0,4 persen menjadi 1.885,38 Dolar AS per ons, serta paladium yang naik tipis 0,1 persen ke level 1.350,53 Dolar AS per ons.

Kenaikan harga logam kuning ini melanjutkan lonjakan lebih dari 5 persen pada pekan sebelumnya. Tren ini didorong oleh pelemahan nilai tukar Dolar akibat rencana Departemen Keuangan AS yang akan mendukung pembelian kembali obligasi, sehingga emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. 

Saat ini, fokus pelaku pasar tengah tertuju pada rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Juli serta pidato Chairman The Fed, Kevin Warsh, di simposium Jackson Hole untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga AS ke depan.

Prospek cerah emas juga ditopang oleh kuatnya fundamental permintaan global. 

Tingginya permintaan untuk opsi bullish membuat Goldman Sachs optimistis memproyeksikan harga emas berpotensi menembus 4.900 Dolar AS per ons pada akhir tahun. 

Dari sektor resmi, daya tarik emas terus meningkat, salah satunya tercermin dari langkah bank sentral Polandia yang menambah cadangan emasnya dari 20,3 juta ons menjadi 20,6 juta ons pada akhir Juli.

Di sisi lain, status emas sebagai pelindung nilai (safe-haven) makin bersinar di tengah panasnya suhu geopolitik dan perdagangan. Hal ini dipicu oleh sikap Iran yang menepis ancaman sanksi baru dari AS, serta memanasnya perang dagang setelah Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengumumkan tarif balasan terhadap produk AS sebagai respons atas tarif 50 persen yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump. rmol news logo article


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA