Saham Teknologi Wall Street Tersungkur, SpaceX Ambles 16 Persen

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Selasa, 23 Juni 2026, 08:45 WIB
Saham Teknologi Wall Street Tersungkur, SpaceX Ambles 16 Persen
Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
rmol news logo Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup bervariasi pada perdagangan Senin, 22 Juni 2026, waktu setempat.

Tekanan utama datang dari pelemahan saham-saham teknologi, sementara investor juga mencermati perkembangan negosiasi antara AS dan Iran serta menunggu data inflasi yang akan menjadi acuan kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed).

Indeks S&P 500 turun 0,37 persen ke 7.472,79, sedangkan Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi anjlok 1,32 persen ke 26.166,60. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average masih mampu menguat 148,01 poin atau 0,29 persen ke 51.712,71, didorong oleh lonjakan saham Caterpillar.

Pelemahan pasar terutama dipicu oleh penurunan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar. Saham Alphabet (Google) merosot sekitar 5 persen akibat kekhawatiran atas hengkangnya sejumlah talenta penting di bidang kecerdasan buatan (AI). Sementara itu, Amazon turun 4,8 persen, Meta Platforms melemah 2,3 persen, dan Microsoft terkoreksi sekitar 3 persen.

Saham SpaceX juga menjadi sorotan setelah anjlok 16 persen, sekaligus mencatat penurunan selama tiga hari perdagangan berturut-turut. Sejak debutnya di bursa pada 12 Juni lalu, saham perusahaan antariksa milik Elon Musk ini mengalami volatilitas yang tinggi setelah sebelumnya sempat melonjak tajam.

Di tengah pelemahan pasar, beberapa saham sektor semikonduktor justru menguat. Micron Technology naik hampir 7 persen menjelang rilis laporan keuangan kuartalannya pada Rabu mendatang. Saham Advanced Micro Devices (AMD) menguat lebih dari 2 persen, sementara Intel melonjak sekitar 5 persen.

Saham perusahaan berkapitalisasi kecil juga menunjukkan kinerja positif. Indeks Russell 2000 naik sekitar 0,8 persen dan berhasil menembus level 3.000 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah. Sepanjang tahun 2026, indeks ini telah melonjak lebih dari 21 persen, jauh melampaui kenaikan S&P 500.

Pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) Mei pada Kamis mendatang. Data ini merupakan indikator inflasi favorit The Fed dan akan menjadi petunjuk penting terkait arah kebijakan suku bunga. Setelah pertemuan The Fed pekan lalu yang bernada lebih agresif (hawkish), pasar mulai memperkirakan kenaikan suku bunga dapat terjadi secepatnya pada Oktober.rmol news logo article
EDITOR: RENI ERINA

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA