Pertumbuhan ekonomi ini mencerminkan keberhasilan transisi Cina menuju Knowledge Economy, dan bagi Beijing, surplus ini adalah alat keberhasilan atas kedaulatan teknologi, meski risiko proteksionisme Barat kini menjadi hambatan nyata bagi ekspansi global mereka.
Cina menerapkan Industrial Co-evolution, di mana mobil listrik, baterai, dan panel surya saling memperkuat melalui skala ekonomi dengan memanfaatkan pasar 1,4 milyar penduduk sebagai underlying market. Sinergi ini meluas ke sektor lidar, drone dan kendaraan otonom, menciptakan spillover ke industri tambang hingga pertanian. Jika ada celah rantai pasok, Kementerian Industri dan Teknologi Informasi (G?ngyè hé Xìnx?huà Bù) melakukan intervensi strategis demi kedaulatan teknologi.
Industrialisasi Cina membuat batas perangkat keras dan lunak memudar, ponsel dan mobil menyatu dalam ekosistem AI. Perusahaan seperti Xiaomi, DJI, dan BYD berevolusi menjadi "pisau Swiss" dengan integrasi vertikal ala Tesla untuk mendominasi pasar masa depan dan mencapai otonomi strategis. Cina menerapkan apa yang disebut sebagai negara Techno-nationalist, bahwa kekuatan teknologi suatu negara -seperti AI, semikonduktor, atau ruang angkasa- sama pentingnya dengan kekuatan militer dan ekonomi.
Pertemuan Majelis Permusyawaratan Politik Rakyat Cina (Zh?ngguó Rénmín Zhèngzhì Xiésh?ng Huìyì) yang berakhir pada 11 Maret 2026 berkomitmen komitmen kuat untuk menjadikan sains dan teknologi sebagai penggerak utama pembangunan nasional. Hasil dari musyawarah itu adalah peningkatan sebesar 10% dalam pendanaan pemerintah pusat untuk sains dan teknologi yang mencapai 426 miliar yuan (sekitar US$ 62 miliar) dan mendorong program unggulan yang bertujuan membangun universitas dan disiplin ilmu kelas dunia. Pengumuman ini menggarisbawahi pergeseran strategis pendidikan tinggi menuju pengembangan inovasi, kemandirian dalam teknologi kunci, dan pembinaan talenta untuk mendukung Rencana Lima Tahun ke-15 Cina (2026-2030).
Peningkatan pendanaan ini menjawab kebutuhan mendesak dalam riset dasar, yang mengalami kenaikan 16,3%, dan bagi universitas, ini berarti dukungan yang lebih besar untuk bidang-bidang strategis seperti kecerdasan buatan (AI), sirkuit terpadu, bioteknologi, dan manufaktur canggih, memposisikan mereka sebagai kekuatan utama untuk inovasi orisinal.
Narasi kebangkitan Cina modern tidak dapat dilepaskan dari satu kerangka historis yang terus diulang dan ditanamkan, seratus tahun penghinaan (B?inián Guóch?). Istilah ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan konstruksi politik yang menyederhanakan kompleksitas sejarah menjadi satu pelajaran strategis - bahwa kelemahan teknologi dan institusi adalah pintu masuk dominasi asing.
Dari Perang Candu tahun 1839 hingga 1949, Cina mengalami degradasi kedaulatan yang membentuk kesadaran kolektif bahwa modernisasi bukan pilihan, melainkan keharusan eksistensial. Ketika dunia Barat memasuki revolusi industri, Cina tertidur, dan harga yang harus dibayar adalah kolonialisme. Kesadaran inilah yang memicu urgensi bahwa Cina tidak boleh lagi tertinggal dalam revolusi teknologi berikutnya.
Ketika Deng Xiaoping membuka era reformasi pada 1978, arah kebijakan menjadi jelas bahwa modernisasi ekonomi tidak mungkin dicapai tanpa modernisasi sains dan teknologi. Dalam kerangka ini, pembangunan tidak dilihat sebagai proses spontan berbasis pasar, melainkan sebagai hasil desain negara melalui rencana pembangunan lima tahun. Setiap rencana lima tahun berfungsi sebagai instrumen koordinasi nasional -menghubungkan pendidikan, industri, energi, dan riset dalam satu arsitektur kebijakan yang terintegrasi.
Dalam suasana perang dingin, Amerika dibawah Presiden Ronald Reagan meluncurkan Program Strategic Defense Initiative (SDI) atau “Star Wars” diluncurkan pada tahun 1983. Cina -negara tirai bambu- yang baru memulai “hidup baru” setelah normalisasi hubungan dengan Amerika, terpicu untuk mengembangkan sains dan teknologinya sendiri. Pada Maret 1986, empat ilmuwan tekemuka Cina Wang Daheng, Wang Ganchang, Yang Jiachi, Chen Fangyun mengirimkan surat proposal kepada Deng Xiaoping yang menekankan urgensi penguasaan teknologi tinggi. Respon Deng singkat namun menentukan, keputusan harus diambil tanpa penundaan.
Proposal 863 (diambil dari tahun 1986, bulan Maret/3) adalah cetak biru untuk pengembangan teknologi tinggi nasional yang berfokus pada aplikasi praktis di tujuh bidang utama: otomatisasi, bioteknologi, energi, material baru, teknologi laser, kedirgantaraan, dan teknologi informasi. Proposal 863 bukan sekadar program riset, ia adalah instrumen statecraft. Fokusnya adalah pengembangan teknologi strategis yang memiliki implikasi sipil dan militer sekaligus, bioteknologi, teknologi informasi, otomasi, energi, material baru, laser, dan kedirgantaraan. Disainnya mencerminkan logika jangka panjang dimana negara memilih bidang prioritas, mengalokasikan sumber daya besar, dan mengarahkan ekosistem riset nasional menuju tujuan yang telah ditentukan.
Proposal 863 kemudian tidak berdiri sendiri ia merupakan bagian dari sistem yang lebih luas, dan pada 1997 Cina meluncurkan program 973, yang berfungsi sebagai pelengkap struktural. Jika 863 berorientasi pada aplikasi dan komersialisasi, maka 973 berfokus pada sains dasar -fisika, kimia, biologi, dan ilmu material. Kombinasi ini menciptakan rantai inovasi yang lengkap, dari teori ke aplikasi, dari laboratorium ke pabrik.
Disinilah Cina menerapkan apa yang kemudian dikenal sebagai knowledge economy. Pengetahuan tidak lagi dipandang sebagai produk akademik semata, tetapi sebagai aset strategis negara. Universitas, lembaga penelitian, dan industri diintegrasikan dalam satu sistem produksi pengetahuan yang diarahkan oleh negara. Investasi besar dalam pendidikan -melalui proyek universitas elit dan pendidikan
vokasi, mengubah populasi besar dari beban demografis menjadi modal manusia (human capital).
Pembangunan ekonomi dengan dasar sains dan teknologi kemudian menjadikan Cina tidak lagi sekadar “pabrik dunia” tetapi mulai bergerak ke arah dominasi teknologi tinggi. Transformasi ini kemudian diformalisasi dalam strategi “Made in China 2025”, sebuah cetak biru industrialisasi yang bertujuan meningkatkan kapasitas manufaktur dari low-cost menjadi high-tech. Sepuluh sektor strategis ditargetkan, termasuk robotika, semikonduktor, kendaraan listrik, dan bioteknologi.
Strategi ini menunjukkan kesinambungan langsung dengan Proposal 863. Apa yang dahulu merupakan proyek riset kini menjadi basis industrialisasi nasional. Negara tidak hanya mendanai riset, tetapi juga menciptakan pasar, memberikan subsidi, dan mengarahkan investasi untuk memastikan bahwa inovasi dapat dikomersialisasikan secara masif.
Salah satu manifestasi paling jelas dari kesinambungan ini adalah fokus pada clean and renewable technology. Dalam beberapa dekade terakhir, Cina menjadi pemain dominan dalam energi surya, angin, baterai, dan kendaraan listrik. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan jangka panjang yang menggabungkan kebijakan energi, industri, dan lingkungan dalam satu kerangka.
Kendaraan listrik tidak hanya dilihat sebagai solusi lingkungan, tetapi sebagai peluang untuk melompati dominasi Barat yang dominan memproduksi mesin pembakaran internal (ICE). Dengan menguasai rantai pasok baterai dan mempercepat adopsi domestik, Cina berhasil menjadi pemimpin global dalam kendaraan listrik sekaligus mengurangi impor minyak bumi.
Jika embargo minyak tahun 73 berdampak kepada lonjakan penjualan mobil Jepang yang efisien, dampak perang Iran ini adalah mobil listrik Cina kini menjadi “rebutan” di banyak negara karena biaya operasional yang jauh lebih rendah. Di dalam negeri Cina memiliki lebih dari seratus merk mobil listrik (EV).
Keseluruhan sistem -sains dan industrialisasi- ini menunjukkan bahwa kebangkitan Cina bukanlah hasil dari satu kebijakan tunggal, melainkan dari orkestrasi berbagai instrumen negara dalam jangka waktu panjang. Ini adalah bentuk statecraft modern, dimana teknologi, ekonomi, dan politik terintegrasi dalam satu proyek nasional dan kemudian memasuki pasar global.
40 tahun Proposal 863 menjadi jelas, kedaulatan tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau sumber daya alam, tetapi oleh kemampuan suatu negara untuk menguasai, memproduksi, dan mengendalikan pengetahuan secara kontinyu, bukan menjalankan bongkar pasang obsesi dari sebuah kepemimpinan. Pertumbuhan ekonomi berkelanjutan hanya dapat dipicu oleh mereka yang menguasai sains dan teknologi, bukan oleh mereka yang memiliki kemampuan baris berbaris.
*) Penulis aktif di Energy Investment & PPP Specdialist ENRI Indonesia.
BERITA TERKAIT: