Mengutip data CoinMarketCap, salah satu pemicu utama datang dari perkembangan geopolitik di mana Presiden AS Donald Trump menunda rencana serangan ke Iran selama lima hari setelah adanya pembicaraan yang dinilai positif.
Pasar melihat ini sebagai tanda meredanya ketegangan, sehingga investor kembali berani masuk ke aset berisiko seperti saham dan kripto.
Dampaknya, Bitcoin sempat menembus level 71.000 Dolar AS pada 23 Maret. Ketika risiko global dianggap menurun, biasanya minat terhadap aset seperti kripto meningkat karena investor mencari peluang keuntungan lebih tinggi.
Selain faktor sentimen, kenaikan ini juga dipicu oleh efek teknis di pasar. Lonjakan harga memaksa banyak trader yang sebelumnya memasang posisi “short” (bertaruh harga turun) untuk menutup posisi mereka. Dalam 24 jam, terjadi likuidasi lebih dari 198 juta Dolar AS pada Bitcoin, yang justru mempercepat kenaikan harga.
Fenomena ini sering disebut efek “short squeeze”, di mana kenaikan harga makin kencang karena banyak trader terpaksa membeli kembali aset untuk menutup kerugian. Artinya, kenaikan saat ini tidak hanya karena permintaan baru, tapi juga karena tekanan dari struktur pasar.
Untuk jangka pendek, posisi Bitcoin masih berada di area penting. Jika mampu bertahan di sekitar 70.800 Dolar AS, harga berpeluang naik lagi mendekati 72.000 Dolar AS. Namun jika turun di bawah 69.200 Dolar AS, ada risiko pelemahan lanjutan.
Ke depan, arah Bitcoin sangat bergantung pada perkembangan hubungan AS dan Iran dalam beberapa hari ke depan. Jika situasi tetap mereda, tren positif bisa berlanjut. Namun jika ketegangan kembali meningkat, pasar kripto berpotensi kembali bergejolak.
BERITA TERKAIT: