Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dirilis melalui Keterbukaan Informasi Bursa Efek Indonesia (IDX) pada Jumat 13 Maret 2026, perusahaan sukses membukukan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp3,14 triliun.
Capaian ini sangat kontras jika dibandingkan dengan tahun 2024, di mana perusahaan masih mengalami kerugian sebesar Rp1,54 triliun.
Lonjakan performa ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan neto yang mencapai Rp6,51 triliun, meningkat cukup tajam dari posisi Rp4,46 triliun pada tahun sebelumnya. Meskipun beban pokok pendapatan turut terkerek menjadi Rp5,99 triliun, BUKA tetap mampu mengimbangi tekanan tersebut melalui pendapatan operasi lainnya yang tumbuh menjadi Rp227,09 miliar.
Faktor pembeda utama yang menjadi mesin pertumbuhan laba tahun ini adalah keberhasilan perusahaan dalam mengelola portofolio investasinya. BUKA mencatatkan laba nilai investasi neto sebesar Rp2,37 triliun, berbanding terbalik dengan kondisi tahun 2024 yang justru merugi Rp1,54 triliun dari sisi investasi.
Kontribusi besar dari sektor investasi ini akhirnya mengantarkan perusahaan meraih laba usaha sebesar Rp2,41 triliun, sekaligus membawa laba sebelum pajak ke angka Rp3,16 triliun.
BERITA TERKAIT: