Terjebak 'Lifestyle Creep' dan 'Impulsive Buying', Mengapa THR Seringkali Hanya Numpang Lewat?

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/ananda-gabriel-5'>ANANDA GABRIEL</a>
OLEH: ANANDA GABRIEL
  • Senin, 09 Maret 2026, 11:03 WIB
Terjebak 'Lifestyle Creep' dan 'Impulsive Buying', Mengapa THR Seringkali Hanya Numpang Lewat?
Ilustrasi/Dokumentasi RMOL.
rmol news logo Momen cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) seringkali menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, dana tambahan ini merupakan penopang kebutuhan Lebaran, mulai dari belanja rumah tangga hingga berbagi rezeki kepada sanak saudara.

Namun di sisi lain, THR kerap menjadi godaan besar yang memicu perilaku konsumtif berlebihan jika tidak dikelola dengan perencanaan matang.

Dua fenomena psikologis yang sering menjebak para pekerja adalah lifestyle creep dan impulsive buying. Memahami keduanya adalah kunci agar stabilitas keuangan tetap terjaga setelah perayaan usai.

Mengenal Musuh Tersembunyi: Lifestyle Creep

Lifestyle creep atau peningkatan gaya hidup terjadi ketika seseorang menaikkan standar pengeluarannya seiring dengan bertambahnya pendapatan.

Saat menerima THR, banyak orang merasa memiliki "lisensi" untuk membeli barang-barang yang sebelumnya dianggap sebagai kemewahan.

Bahaya dari fenomena ini adalah sifatnya yang permanen. Sekali seseorang terbiasa dengan standar hidup yang lebih tinggi, akan sulit baginya untuk kembali ke gaya hidup sebelumnya.

Tanpa disadari, dana yang seharusnya bisa dialokasikan untuk tabungan atau investasi justru habis untuk membiayai gaya hidup baru yang lebih mahal.

Godaan Sesaat: Impulsive Buying Menjelang Lebaran

Berbeda dengan lifestyle creep yang bersifat gradual, impulsive buying adalah keputusan belanja spontan yang seringkali dipicu oleh emosi atau tekanan sosial. Menjelang Lebaran, promo diskon besar-besaran dan tradisi membeli pakaian baru sering menjadi pemicu utama.

Banyak orang terjebak membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu mendesak hanya karena merasa memiliki dana lebih. Tanpa anggaran yang disiplin, uang THR bisa habis hanya dalam hitungan hari untuk barang-barang konsumtif yang manfaatnya hanya terasa sesaat.

Tips Menghindari Jebakan Konsumerisme

Agar THR tidak sekadar menjadi "uang lewat", berikut beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan:

Siapkan anggaran sebelum dana cair: Tentukan prioritas kebutuhan Lebaran sejak awal agar Anda memiliki panduan saat berbelanja.

Terapkan skala prioritas: Dahulukan kebutuhan pokok dan kewajiban seperti utang sebelum mengalokasikan dana untuk keinginan.

Amankan pos tabungan dan investasi: Segera sisihkan sebagian dana untuk tabungan, dana darurat, atau investasi kecil tepat setelah THR diterima.

Gunakan fasilitas praktis untuk angpau: Untuk menghindari penarikan uang yang tidak terkontrol, gunakan fasilitas ATM pecahan kecil (Rp10.000 atau Rp20.000) agar Anda bisa menyiapkan uang angpau sesuai budget yang telah ditetapkan.

Dengan pengelolaan yang bijak, Idulfitri akan terasa lebih bermakna karena Anda tidak hanya merayakan hari kemenangan secara emosional, tetapi juga menang dalam mengelola keuangan demi masa depan yang lebih stabil. rmol news logo article
EDITOR: TIFANI
Konten iklan di bawah berasal dari platform DISQUS, tidak terkait dengan pembuatan konten ini

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA